Apa
kabar hati? Masihkah engkau tetap pada ketabahanmu dan merasuki segala
rasa? Apa kabar otak? Masihkah engkau
berpikir secara rasional?.
***
Perkenalkan,Dia
adalah santri teladan tahun lalu. Namanya Lapisan Kulit. Itu adalah julukan
yang kuberikan padanya. Aku terinspirasi memanggilnya seperti itu karena,ia
selalu menulis nama akun twitternya dengan @afhidermis. Namanya terkesan unik,kurang lebih mirip seperti nama
salah satu lapisan kulit tubuh manusia yang paling luar,yakni epidermis.
Satu
permintaanku,jangan pernah mencari kata afhidermis dibuku kamus
biologi,meski kamus itu telah menuliskan kalimat “Kamus Terlengkap” tetap saja
kata itu tak akan ditemukan. Kata itu hanya ada dikamus keluargaku,kamus Ilmu
Persambungan.
Kamus
Ilmu Persambungan adalah satu-satunya karya yang ia miliki,yah.. sebut saja
buku itu adalah karya pertamanya sekaligus karya terakhir yang ia miliki. Aku
sebagai adiknya turut prihatin atas kemandekan potensinya. Tapi,tak apalah
orang tuaku terkadang mencoba membangun sebuah kejujuran untuknya,yah.. lebih
tepatnya membuat kebohongan yang masuk akal,untuk menyatakan hasil karyanya
bagus. Kasihan kakakku.
Sebenarnya
wajar-wajar saja potensinya semandek itu,kakak Lapisan Kulit itu lebih suka
bercanda dari pada belajar. Menurutnya,tertawa itu adalah tanda orang sukses.
Dan mau tak mau,aku sebagai adiknya harus bisa meladeni kelakuannya. Aku
teringat percakapanku dengannya,beberapa bulan yang lalu. . .
“Laphiritis, kamu narsisnya
semakin lancar yah!”
“Tentu saja kak, saya
kan pakai wi-fi sekaligus speedy jadi semua koneksinya cepat ”
“Kalau begitu, buka
warnet saja, hahah..”
“Sebenarnya ada niat, tapi
kalau penjaga warnetnya cantik,nanti warnetnya cepat penuh kak”
“Susah juga yah, jadi
orang cantik”
“Ah.. tidak juga kak”
“Yey, memangnya kamu
cantik? Kupikir tidak”
“Yah.. kecantikan
memang bukan untuk dipikirkan kak, tetapi untuk disyukuri pada Tuhan”
“Aduh.. adik ini memang
selalu mencari alasan, tidak mau mengalah”
“ Hmm.. karena orang
yang baik adalah orang yang mengakui kesalahannya. Maka aku mengaku kalah saja kak”
“Tapi,orang yang
terbaik adalah orang yang memberi kesempatan pada orang lain untuk mendapatkan
kemenangan. Jadi silahkan diambil saja dik “
Oh..Tuhan…
sampai kapan aku harus jadi bahan percobaan canda tawanya. Kakak teraneh yang
pernah kumiliki. Meski ia berbadan kekar dan sehat,tapi tetap ia tak bisa
menyamai kharisma Ade Ray ia justru terlihat seperti Ade Namnung. . .
Laphiritis
adalah nama yang ia berikan untukku,tapi aku masih belum menyetujuinya secara
resmi. Yah.. karena ia belum memotongkan kambing untuk acara aqiqahku.
Meskipun,Dia adalah seorang kakak yang humoris,tapi menurut tipologi Keymans Dia
termasuk dalam golongan Gepasioner. Dan yang aku tahu,golongan Gepasioner itu
adalah karakter orang-orang yang hebat. Kakakku mungkin,tak sehebat Ir.Soekarno
yang mampu berkata “Berikanku sepuluh pemuda yang mencintai bangsanya,maka akan
kugoncangkan dunia”. Dia juga tak bisa secerdas R.A Kartini yang mampu
menorehkan perjuangan emasnya dalam sebuah karyanya yakni “ Habis gelap,terbitlah
terang”. Tidak… kakakku memang bukan seperti mereka,tapi Dia selalu menjagaku
dalam semua desah-desah doanya pada Tuhan. Yang setiap sepertiga malam selalu
memenuhi pekatnya langit,untaian doanya selalu bersinar. Dengan harapan agar
adiknya selalu berpikir secara rasional dalam menyikapi semua kesenjangan
antara harapan dan kenyataan. Kalimat-kalimat penuh pengharapan agar hati
adiknya selalu terjaga oleh sang penguasa langit.
Bukankah,sudah
kukatakan bahwa ia adalah santri teladan. Yah,berkat predikatnya itu,ia selalu
menjadi kakak teladan bagiku. Yang menuntunku untuk meraih cahaya doa yang
seperti ia miliki. Meski harus aku akui,sifat humorisnya tak pernah hilang. But,you’re
the best brother.
***
Aku
rela adikku menertawakan semua tingkahku,tapi aku tak rela jika ia dipermalukan
oleh yang lain. Kecerdasan dan kekayaan tak ada padaku,tapi cinta dan ketulusan
itulah yang kumiliki untukmu,adikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar