Bagaimana mungkin urusan cinta ini
menjadi rumit. Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kalau kau bertanya-tanya
kenapa aku bisa begitu saja meminta password akunmu itu, aku akan
menjelaskannya.
Bukankah kita menjalani hubungan ini
sudah sangat lama? Tidakkah kau pikir aku selalu ingin mengetahui apa yang kau
lakukan? Saat bersamaku dan saat tidak bersamaku. Kau tidak akan pernah mampu
menebak bagaimana pikiran dalam otakku ini memikirkanmu tanpa henti. Bahkan
kalau kau lihat aku terlalu sibuk mengerjakan tugasku, bermain game yang baru
beberapa minggu ini kugemari. Dalam benakku pun jauh lebih sibuk memikirkan
bagaimana agar kau tetap melihatku sebagai wanita terindah yang pernah kau
temui. Aku jauh lebih sibuk memikirkan bagaimana agar aku selalu terlalu
terlihat indah.
Pernah suatu hari kau katakan
tentang pakaianku, atau tas yang kukenakan tak sepadan. Kau tahu apa yang ada
dalam benakku? Saat itu aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku
tampil seceroboh ini? Aku selalu berharap agar kau melihatku cantik setiap
hari. Aku bingung harus melakukan hal apa agar kau tak kehilangan selera untuk
menatapku lebih indah dari biasanya.
Kau tahu bukan? Aku ingin menjadi
istri sholehah? Meski yah aku mungkin tak akan bisa seperti istri-istri nabi
yang lainnya. Tapi aku selalu berusaha melakukannya. Aku selalu berusaha
bagaimana caranya menjadi penyejuk matamu. Menjadi qurrata’ a’yun untuk
penglihatanmu, agar semua rasa penat yang kau rasakan sirna ketika melihatku.
Aku selalu ingin menjadi cantik dihadapanmu agar tak kau palingkan kedua bola
matamu itu pada wanita lain. Karena tak dapat ku pungkiri pria memang punya
indra visual yang jauh lebih baik dari seorang wanita.
Saat kau mendengarku mengeluh
terkena paparan sinar matahari, mendumel tiada habisnya. Sadarilah semua itu
sebenarnya untukmu, aku tak ingin aku berubah menjadi gadis yang kulitnya hitam
legam terpanggang teriknya mentari. Aku takut kau akan berpaling pada gadis
yang putih karena melihatku hitam legam.
Kau masih ingat bagaimana aku marah
padamu saat mengetahuimu menggombali gadis lain waktu itu? Ah..
demi Tuhan rasa sakit itu tak pernah terperi. Aku tak tahu mengapa kau lebih
bahagia menghapus air mata gadis lain dengan menghiburnya sedangkan aku yang
kekasihmu sendiri pun tak kau tahu menangiskah ia ketika tak diberi kabar
olehmu. Menangiskah ia melihat kau pergi bersama temanmu yang lain dan disana
ada banyak gadis, sedangkan aku pun tak kau ajak untuk ikut. Menangiskah ia
ketika kau berbicara dengan gadis lain.
Tidakkah kau sadar bagaimana
perasaan ini untukmu? Pernahkah kau temukan gadis sepertiku? Seorang kekasih
yang tidak pernah bisa berhenti untuk cemburu pada semua kegiatanmu yang tidak
kau tujukan untukku. Jangankan gadis, ibumu yang telah berjasa melahirkanmu pun
aku cemburu padanya. Pada semua barang-barang yang kau habiskan beberapa detik
dengannya pun aku cemburu.
Terkadang aku heran, bagaimana
mungkin aku terlahir dengan perasaan seperti ini. Namun aku selalu
mengalaminya, dan aku memang tidak bisa terlepas dari perasaan seperti ini.
Itulah sebabnya aku sering menangis seorang diri. Sakit rasanya melihat orang
disekitarku sibuk dengan dunianya sendiri.
Begitu pula setiap amarahku untukmu.
Kau benar semua itu karena aku teramat rindu padamu. Tapi yang membuatku heran
kenapa kau justru sering membuatku marah? Mm.. tidakkah kau pikir bagaimana
sakitnya menahan rindu? Rindu itu amat sakral. Obatnya tentu saja temui aku.
Yakinkan bahwa kau pun menyimpan rindu yang sama untukku. Namun yang harus kau
tahu, rindu yang kumiliki jauh lebih dahsyat dari rindu yang pernah kau rasakan
untukku.
Kalau kau berpikir bagaimana mungkin
kau yang begitu ingin bersamaku sementara aku dapat dengan mudahnya selalu
menyuruhmu meninggalkanku. Tidaklah, aku tidak mungkin semudah itu melupakanmu
bahkan jika kau ingin membuktikannya bawalah aku pada ahli psikolog.. tanyakan
bagaimana perasaan ini untukmu. Tanyakan bagaimana rasa rindu yang kerap kali
ingin membunuhku dalam pekatnya malam. Aku jauh lebih susah untuk melakukannya,
bahkan aku tak yakin jika aku bisa melakukannya.
Dan yang selalu membuatku
bertanya-tanya adalah sikapmu. Kau teramat mencintaiku bukan? Tapi kenapa kau
tega memberikan perhatianmu walaupun itu hanya berupa chat singkat yang bagiku
seperti pisau tajam yang mengoyak perasaanku lumat-lumat, tak tersisa. Terlebih
lagi saat aku tahu kau pernah berbicara dengannya melalui handphonemu itu. Ah…
mungkin ini yang membuat Layla menjadi majnun. Karena cinta amat indah namun
jika ternodai ia akan jauh menikam lebih lihai dari seorang pembunuh bayaran
sekalipun, ia akan amat lihai memainkan dan mengoyak perasaan tanpa ampun.
Entah kata apa yang dapat mewakilinya.
Menyamakannya seperti luka yang
penuh darah lalu ditaburi garam dan jeruk nipis pun rasanya jauh lebih
menyakitkan. Ketahuilah, luka perasaan itu sangat kuat. Ia menusuk sampai membuat
pikiranmu buyar, kacau, dan tentu saja tanpa arah. Tidakkah pernah kau dengar
bagaimana seseorang yang pernah patah hati berakhir tragis dengan bunuh diri?
Ini tentu saja bukan hal yang main-main. Karena seperti itulah realitanya. Luka
perasaan jauh lebih menyakitkan dan aku selalu berharap terhindar dari penyakit
mematikan itu, namun sayang lagi-lagi aku jatuh di lubang yang sama.
Entah aku harus mengutuk diri ini
seperti apa lagi agar tidak jatuh di lubang yang sama ini. Akankah Tuhan masih
ingin mengujiku lagi? Ah.. rasa-rasanya setiap cobaanku selalu mengaitkan
perasaanku sendiri. Lelah rasanya menangis semalaman. Namun bagaimana lagi?
Ingin ku rapatkan kedua bola mata ini tetap saja susah, ada bulir air hangat
yang masih saja mengalir dari kedua sudut mataku yang membuat bantal ini basah.
Aku tak tahu bagaimana lagi caranya
memulihkan luka ini? Kau ingat peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air? Yah
peristiwa yang cukup menggemparkan jagat ini, namun dibalik jatuhnya pesawat
itu ada-ada saja seseorang yang berhasil menemukan kotak hitam yang setidaknya
bisa mencerahkan kenyataan yang terjadi. Jika diibaratkan seperti pesawat yang
jatuh itu, kotak hitam itu adalah hatiku. Lalu siapa yang akan menemukannya dan
setidaknya yah mau berbaik hati mengobati luka ini.
Bagaimana denganmu? Masihkah kau
ingin mengobati luka yang kau torehkan ini kasih? Jujur aku sendiri tak mampu
mengobatinya. Bibirku kelu jika ingin memarahimu, lagi pula kau tak salah.
Sebenarnya akulah yang salah, aku
yang kurang pandai menjagamu. Aku yang kurang cantik sehingga kau bisa
memberikan perhatian sekecil itu pada gadis lain. Menanyakan bagaimana
kabarnya, dimana keberadaannya. Ah Tuhan… bisakah aku melupakan ini semua? Aku
teramat mencintai kekasihku. Selalu ku berikan yang terbaik untuknya, selalu.
Tapi, bukankah selalu aku katakan
agar selalu jujur padaku? Karena aku terlahir dengan kebaikan Tuhan seberapa
keras orang disekitarku ingin menyembunyikan sesuatu dariku aku akan selalu
diberi ilham oleh Tuhan untuk mengetahuinya. Akan selalu ada cara yang
dilakukan Tuhan untukku agar aku sadar hingga aku tahu yang sebenarnya.
Layaknya Percy Jackson yang selalu diberikan petunjuk oleh ayahnya, Dewa
Poseidon.
Sepertinya aku punya Poseidon
tersendiri sama seperti yang ada dalam mitologi yunani itu, tapi aku
mendapatkannya dari Tuhanku, yah karena Dia yang tahu seperti apa hati yang
telah ia berikan untukku. Tuhan tahu bagaimana pekanya perasaan ini.
Kau lupa yah tentang ceritaku
bagaimana kekasihku yang dahulu juga menyakitiku namun Tuhan selalu punya
caranya sendiri sehingga aku tahu semua penghianatan itu, padahal aku tak
mengenal seorang pun teman barunya. Sejak kita jadian, ku ceritakan semua
pengalaman berharga itu sebagai petunjuk untukmu agar kau tak pernah meremehkan
gadis kecil ini. Agar kau sadar bahwa gadis ini pun ingin diberi kejujuran yang
sama.
Apa pernah aku berbohong padamu?
Lalu dosa apa yang kulakukan untukmu sehingga kau membohongiku seperti ini? Kau
tahu bukan pepatah tentang tupai itu? Tapi kenapa kau tidak mengindahkannya
untukku? Kau takut aku marah? Seharusnya kau harus jauh lebih takut jika aku
tahu kau menutupinya dariku, aku tentu saja akan jauh lebih marah bukan?
Untungnya aku mencintaimu, aku tidak
memarahimu bukan? Aku bahkan tetap melanjutkan kisah ini. Aku tak tahu ada
berapa pemuda di luar sana yang akan marah jika tahu kau melakukan hal ini
padaku. Tidakkah kau bersyukur bersamaku? Atau mungkin kau memang tampan,
sehingga menganggap semua ini biasa-biasa saja. Dan menganggap aku tak secantik
teman wanitamu sehingga kau tak pernah risau jika kehilanganku. Entahlah, aku
tetap tidak peduli dengan semua itu. Aku akan tetap menjalani semua ini.
Mungkin ini pertanda mimpi-mimpi
yang akhir-akhir ini selalu mengusik tidur nyenyakku. Kau tahu bukan? Tiga hari
berturut-turut aku memimpikanmu bersama gadis lain. Ah, ini benar-benar mimpi
buruk yang menjadi kenyataan.
Aku tak tahu ada berapa banyak gadis
yang telah kau ajak chat semenarik dan seperhatian seperti itu, aku juga tak
tahu kemarin-kemarin ada berapa banyak gadis yang telah kau telpon tanpa
memikirkan perasaanku yang selalu kujaga untukmu.
Jika kau cemburu melihat bagaimana
pemuda yang lainnya menunjukkan perasaannya
padaku, kau seharusnya tak usah merasakan hal itu. Toh, seberapa tampan
dan baiknya mereka aku tak pernah mau memulainya. Aku pun hanya membalas
seperlunya dan tentu tanpa rasa bahagia sekalipun. Aku tak pernah mau meminta
nomor handphone mereka bukan?
Tapi, kenapa kau justru seperti
pemuda itu?
Aku cemburu, dan kau harus tahu hal
ini. Ah.. aku kurang cantik yah dibandingkan dia? Mm.. aku sadar dia memang
gadis yang cantik dan tentu saja manis, senyumannya mungkin membuatmu jatuh
hati. Belum lagi ia tinggi sepertimu, sedangkan aku? Ah.. aku tidak cantik dan
semanis dirinya. Aku gadis kecil yang pendek, sangat kurus malah. Benar-benar
berbeda dengannya.
Namun aku harus bagaimana? Apa aku
harus minum obat peninggi agar bisa setinggi dirinya dan dirimu? Aku harus
makan sebanyak mungkin agar tidak kurus kering kerontang seperti ini, layaknya
sawah yang gagal panen dan tidak teraliri pengairan.
Maaf sayang, jika aku belum bisa
tampil cantik dan menjadi qurrata’ a’yun untukmu. Itu memang cita-citaku sejak
dulu menjadi qurrata’ a’yun bagi kekasihku agar ia betah bersamaku, agar ia
rela menghabiskan waktunya untukku.
Semoga Tuhan memberiku rezeki yang
berlebih hingga aku bisa merawat tubuh ini sesuai keinginanmu, agar matamu
tidak silau oleh gadis lain. Karena akan sangat sakit jika kau bisa merasakan
semua ini.
Maafkan aku yang gagal untuk
menjagamu, namun aku selalu berusaha melakukannya.