Halaman

Minggu, 18 November 2012

monster pemakan microphone


Sepuluh menit lagi,gerbang biru itu akan tertutup. Aku tak tahu,mengapa sekolah seluas ini hanya dijaga oleh satu satpam yang terkenal sangat killer. Dengan kulit yang hitam legamnya,mengingatkanku pada zaman Rasulullah masih hidup. Yah.. tentang Bilal,tukang adzan Rasulullah. Mungkin,hitam legamnya satpamku persis dengan hitamnya kulit bilal.
Jalanan masih macet,sementara aku sibuk menerka-nerka apa yang sedang dilakukan oleh satpam menyebalkan itu. Memangnya dia pikir aku adalah robot yang bisa secepat remote control bekerja.
Terkadang aku dan teman-teman lainnya mengejeknya dengan monster pemakan microphone. Bagaimana tidak? Jika tukang adzan sekolahku tak hadir,ia yang bertugas untuk adzan. Tetapi,suara yang ia lantunkan melebihi kapasitas microphone sehingga microphone langsung tak berfungsi. Untuk kejadian pertama,aku dan teman-teman yang lainnya memaklumi . Tapi,kejadian itu terulang lagi. Saat itu. . .
“Jamal, sebentar gantikan aku untuk adzan yah!”
“Memangnya kau mau kemana?”
“Aku punya urusan,dan aku tak bisa kembali sebentar sore”
Aku yang mendengar percakapan mereka hanya bisa tertawa,sambil membayangkan suara adzan sebentar sore akan menghilang. Dan benar saja,saat suara adzan mulai terdengar tiba-tiba suara speaker diasrama berhenti. Itu artinya,ia mulai kembali beraksi,mengumandangkan adzan dengan cara yang sangat berlebihan ,hingga microphone rusak lagi. . .
Ah… aku tak suka dengan sikapnya yang selalu melarang-larang. Padahal dia bukan pembina disekolah ini. Setidaknya ia mengizinkanku untuk berdiri sejenak menatap kehidupan dibalik gerbang biru itu.
Sepuluh menit berlalu,dan pintu gerbang biru itu tertutup. Aku tiba setelah ia selesai menutup pintu gerbang. Aku berjalan dengan perasaan takut,yah..aku takut dimarahi olehnya.
“Pak, aku masih boleh masuk?”
“Kau  dari mana? Kau sudah tahu peraturan kenapa masih datang terlambat?”
“Maaf pak, aku baru saja mengikuti pelatihan disalah satu universitas dan letaknya lumayan jauh. Sementara perjalanan macet. Afwan”

“Ah..tunggu dulu,aku akan membicarakannya dengan pembinamu”
Setelah setengah jam aku menunggunya sambil menyumbangkan darah-darah segar untuk nyamuk-nyamuk diluar gerbang. Pak Jamal datang dengan membuka gerbang biru. Tuhan,semoga ia ikhlas membiarkanku masuk.
Rutinitas harianku tetap berlanjut seperti biasa. Sekali,dua kali,bahkan berkali-kali teman-temanku masih suka membicarakan tentang monster pemakan microphone itu. Tapi,saat aku ingin menyerahkan beberapa proposal dikantor,aku tak sengaja mendegar pak satpam itu menangis. Sungguh,aku tak tahu mengapa ia menangis seperti itu. Awalnya aku mengacuhkan peristiwa itu. Tetapi,setelah aku kembali ke kelas,teman-temanku sedang sibuk menceritakan tentang hal yang tak pernah aku ketahui,bahwa ditahun ajaran lalu ada salah seorang murid yang kabur dari sekolah ini,dan satu-satunya yang dijadikan sebagai tersangka dikantor polisi adalah pak satpam sekolahku. Padahal kejadian itu bukan semata-mata karena kelalaiannya,karena yang bertugas untuk mengawasi murid adalah pembina ditiap-tiap asrama,bukan dia. Sementara murid yang kabur itu keesokan harinya ditemukan telah meninggal dunia karena tertabrak oleh truk. Ia ditemukan bersama kekasihnya yang juga meniggal dunia. Pihak sekolah mengetahui kejadian ini melalui surat kabar yang cukup terkenal dikota ini.
Sejak saat itu,aku mengerti mengapa ia selalu melarang semua murid untuk berdiri didekat gerbang biru. Yah..ia takut peristiwa seperti itu akan terulang lagi. Hal itu akan sangat memalukan bagi sekolah ini. Ia menyayangi sekolah ini dan menyayangi semua murid yang ada ditempat ini,karena baginya sekolah ini adalah rumah kedua untuknya setelah rumahnya. Ia menyayangi dengan caranya sendiri lewat ketegasannya.
Ada begitu banyak kejadian yang tak pernah aku ketahui,sedangkan aku dengan angkuhnya selalu memberi justifikasi bahwa Dia adalah orang yang jahat,yang selalu bermuka masam didepan semua murid,aku salah telah menilainya sebagai orang yang galak. Seharusnya aku menilainya sebagai orang yang punya dedikasi penuh terhadap sekolah ini. Tuhan.. bantu aku agar bisa lebih mengerti dan memahami semua kehidupan di duniaMu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar