Halaman

Kamis, 22 November 2012

cassandra procyon


Cassandra procyon

 

Kevin bukanlah seorang psikopat. Keluarganya  -- keluarga Maddyor memang mengidap penyakit kejiwaan tersebut. Namun, bukan berarti ia juga mengidap psikopat.

Dari kesehariannya, ia normal seperti anak-anak yang lain –yang menikmati masa mudanya dengan belajar. Penampilannya yang rapi, dengan celana naik setengah perut dan dililit ikat pinggang ketat menghilangkan kesan bahwa ia berasal dari keluarga pengidap psikopat. Ia pun sopan terhadap temannya dan orang yang lebih tua.

Suatu ketika, aib keluarganya menjadi buah bibir diantara teman-temannya. Semuanya berbalik membenci Kevin. Setiap ia masuk kelas, ia selalu menjadi bahan bully-ing di antara teman-temannya. Bahkan tak heran, ia biasa pulang dengan luka memar ditubuhnya.

“Hai bocah psikopat..!!”. begitulah Joe, teman kelasnya menyapanya.

Kevin hanya terdiam. Sikapnya yang memang pendiam membuatnya selalu menghiraukan ejekan temannya itu.

Kevin punya sahabat. Namanya Ivone. Meski teman sekelasnya banyak yang membenci Kevin, namun tidak demikian dengan Ivone. Menurut Ivone, Kevin adalah tipikal orang yang asik diajak bercanda jika kita sudah akrab dengannya. Namun sayangnya, Kevin adalah orang yang introvert sehingga ia lebih memilih untuk tertutup bagi orang lain dan terbuka hanya pada beberapa orang saja.

Kevin hanya akrab pada dua orang saja,yakni Ivone dan Cassandra Procyon. Cassandra Procyon adalah kekasihnya. Cassandra gadis yang cerdas dan sangat cantik. Kulitnya putih bersih seperti ibunya. Mata sipitnya semakin mempertegas kecantikannya.

Diusianya yang kedelapan belas tahun, Kevin memutuskan untuk melepaskan diri dari status keluarga psikopat. Ada banyak rintangan yang ia hadapi selama melakukan pengembaraannya. Bahkan, tekanan dari keluarganya sedikit berhasil mematahkan ambisinya untuk mengubah hidupnya. Semua itu ia lakukan untuk mencari sudut pandang yang baru, dunia tanpa rasa saling menyakiti dan hasrat ingin membunuh.

Sejak Kevin masuk sekolah. Ia selalu menduduki peringkat pertama, ia bahkan pandai dalam meneliti suatu kasus. Kekasihnya, Cassandra selalu menjadi penyemangat baginya. Sama seperti Ivone. Meski Cassandra dan Ivone akrab dengan Kevin, mereka berdua tak pernah tahu persis mengenai latar belakang keluarga Kevin. Mereka tak peduli akan hal itu, yang mereka tahu.. mereka harus saling mengasihi satu sama lain. Terlebih lagi Kevin, ia sangat menyayangi Cassandra, kekasihnya.

Orang tua Cassandra menyetujui hubungannya dengan Kevin. Dan semua keadaan berjalan normal, seperti biasanya. Tapi, keadaan berubah saat orang tua Cassandra ingin mengenal keluarga Kevin lebih jauh.

“Sandra.. kapan Kevin datang ke rumah beserta keluarganya?”

“Entahlah, nanti akan aku tanyakan”

 

Cassandra bingung harus memberitahukan kemauan orang tuanya pada Kevin atau tidak, karena selama ini ia tahu Kevin tak pernah mau membahas mengenai hal itu, entah mengapa.

Dengan tumpukan buku yang dibawa oleh Kevin, semakin membuatnya terlihat seperti orang yang jenius. Yah.. meski lebih pantas disebut cowok kutu buku. Tapi, kehadiran Cassandra didekatnya melunturkan ocehan seperti itu. Kini,ia terlihat lebih menawan. Yah.. kecantikan Cassandra memberikan rona tersendiri diraut wajahnya.

“Mm.. biarkan aku membantumu”

“Tak usah, ini tak berat”

“Ayolah, jangan menolak permintaanku”

Demi melihat senyum diwajah cantiknya, Kevin menerima tawaran Cassandra. Mereka duduk dihalaman belakang sekolah. Membaca buku-buku referensi. Saat keadaan hening, Cassandra mulai berbicara.

“Vin.. keluargaku ingin mengenal keluargamu, kau datang yah.. bersama mereka”

“Untuk apa aku mengajak keluargaku? Mereka sibuk, biarkan aku saja yang datang. Toh, yang  mencintaimu aku bukan mereka, ini hubungan kita”

“Mm... baiklah”

Cassandra memang tak tahu seperti apa gejolak dalam batin Kevin. Kevin ingin memperkenalkan orang tuanya tapi, tidak dengan keadaannya yang seperti ini. Ia takut Cassandra akan pergi jika mengetahui keluarganya yang sebenarnya. Andai Cassandra bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh Kevin, ia mungkin akan bisa menerima keputusan Kevin untuk tidak mengenalkannya pada orang tuanya, tapi.. Cassandra tak tahu hal ini.

***

John Maddyor adalah Ayah Kevin. Ia adalah seorang pelaku kriminal yang handal mengenai pembunuhan berantai. Baginya dengan membunuh, semua masalah bisa terselesaikan dengan mudah. Hanya perlu taktik licik, sedikit keahlian, dan.. musuh pun tewas. Itu adalah hal yang sangat membanggakan baginya.

“Ashlan kau siapkan taktik untuk membunuh pengusaha baru itu”

“Sebaiknya untuk pembunuhan kali ini kita akan berpura-pura menjadi relasi kerjanya dan saat ia mulai menerima tawaran, aku akan memberikan pulpen pengisap darah itu”

“Yah..terserah kau saja yang jelas kau harus bisa membunuhnya”

Kevin yang mendengar percakapan ayah dan pamannya langsung berusaha mencari cara agar tindakan licik keluarganya itu tak terjadi. Ia pun mengikuti kemana mobil pamannya pergi.

***

“Maaf.. Kevin tidak bisa datang bersama keluarganya, orang tuanya sibuk”

“Kalau begitu, kau atur waktu saja, kapan ia bisa datang ke rumah”

Sementara Cassandra masih sibuk menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kekasihnya itu. Cassandra mulai mencoba untuk mencari tahu tentang keluarga Kevin yang sebenarnya.

“Ivone.. aku tak tahu, kenapa Kevin sampai saat ini tak mau mengenalkan orang tuanya pada keluargaku”

“Mungkin, keluarganya benar-benar sibuk, kau sabar saja..”

“Tapi, apa kau pernah tahu siapa nama orang tua Kevin?”

“Yah, sebenarnya tidak juga, tapi kenapa kita tidak mencarinya di data sekolah saja?”

“Ia.. ide yang bagus”

Cassandra dan Ivone sudah siap mengenakan seat-belt. Ivone yang mengendarai mobil sudah menancapkan gas dan ia pun pergi.

Mereka mulai menyusuri anak tangga, mengambil kunci perpustakaan yang selalu dititipkan di petugas keamanan. Saat mereka mencari data-data seluruh siswa, mereka agak kebingungan. Mereka baru sadar bahwa nama Kevin di sekolah tak hanya satu. Setelah, berulang kali membolak-balik lembaran-lembaran kertas akhirnya mereka menemukan biodata Kevin.

Kevin Ivankov Maddyor

Dari biodata itu Cassandra tahu bahwa Kevin adalah anak dari seorang pengusaha ternama. Ia juga menemukan alamat rumah Kevin.

***

Kevin terus mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia tak ingin tindakan pamannya sampai harus merenggut nyawa orang lain lagi. Hingga ia berhasil menemukan alamat yang menjadi incaran keluarganya untuk dibunuh. Tanpa harus menunggu waktu lebih lama lagi, Kevin langsung membicarakan rencana keluarganya pada pengusaha muda itu.

Ia memang tak peduli tindakannya akan membatasi tindakan licik keluarganya, ia tak peduli. Selama ini ia memang hanya diam saja, tapi di umurnya yang kini jauh lebih mengerti tentang hidup. Ia tak akan membiarkan keegoisan keluarganya harus dibayar dengan tangisan kehilangan oleh mereka semua. Kevin tak tahan melihat semua berita kejahatan keluarganya dibahas habis-habisan disemua media, sedangkan keluarganya tak pernah tertangkap oleh aparat kepolisian. Bagaimana mungkin, keluarganya bisa tertangkap semudah itu, sedangkan uang sudah mengunci rapat mulut-mulut haus kenistaan itu.

Kevin beruntung bisa terbebas dari kelainan seperti yang dialami oleh keluarganya. Penguasa takdir mungkin telah memilihkan jalan hidup yang jauh lebih baik untuknya. Ia pasti bisa memberikan akhir yang baik dalam hidupnya.

***

Rasa penasaran Cassandra membuatnya memutuskan untuk datang ke rumah Kevin. Awalnya ia ragu untuk melakukannya, tapi ia tak kuasa untuk ingin mengetahui keluarga Kevin. Siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu.

Di tengah perjalanan Ivone menghubungi Cassandra untuk segera kembali ke sekolah. Cassandra yang ingin menuju ke rumah Kevin, kembali memutar arah menuju sekolah. Disana, ia sudah melihat Ivone.

“Ada apa?”

“Ini.. aku menemukan note-pad Kevin di kelas, ia mungkin lupa”

“Mm.. ia,biar aku saja yang menyimpannya”

Awalnya Cassandra tidak ingin membuka note-pad  Kevin, tapi dia pikir.. ia harus membukanya. Siapa tahu ia bisa menemukan hal lain, bukan sekedar alamat rumah.

Benar saja, apa yang ada dalam pikiran Cassandra ternyata benar. Ia menemukan sebuah catatan mengenai keluarga Kevin.

“ Keluarga Maddyor adalah keluarga besar pengidap psikopat. Dan aku termasuk dalam bagian keluarga ini. Ayahku seorang pengusaha ternama, ia selalu menjalankan tindakan liciknya bersama pamanku, Ashlan Presscott Maddyor. Mereka berdua memang keluargaku, tapi jika sifat mereka seperti itu, aku kecewa bisa jadi bagian dari mereka. Orang tuaku dan adik-adikku juga mengidap penyakit yang sama, entah mengapa Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup dengan cara yang lebih baik. Satu kelebihan dari kelainan itu yang sangat ku hargai yakni, akan membuat seseorang memiliki IQ yang tinggi. Tapi, untuk apa itu semua jika harus bahagia ditengah derasnya air mata kehilangan jiwa-jiwa yang tak bersalah. Keluargaku jahat.”

***

Kevin kembali ke rumah tanpa perasaan bersalah pada keluarganya karena telah menghancurkan rencana mereka. Kevin tak peduli, seberapa marahnya ayah dan pamannya jika tahu yang menggagalkan rencana mereka adalah anaknya. Rasa belas kasih pada nyawa-nyawa tak bersalah itu lebih tertanam kuat dalam jiwa Kevin.

Ia masih ingat betul bagaimana ayahnya dulu membunuh seorang gadis kecil yang bermain dihalaman rumahnya. Wajah periang dari gadis berambut panjang itu luntur ketika ayah Kevin datang dengan beringasnya menampar wajah imut itu. Ayah Kevin tak peduli air mata penuh rasa iba merintih kesakitan, ayahnya tak peduli. Ayahnya justru semakin tertawa getir melihat gadis itu kesakitan. Paman Ashlan juga sama kejamnya, ia juga turut menyiksa gadis itu. Ia tega menghabiskan nyawa tak bersalah itu. Sungguh, mereka sangat kejam.

***

Hari ini, keputusan Cassandra sudah bulat. Ia akan datang ke rumah Kevin. Ia ingin memastikan apakah yang ia baca itu benar-benar nyata atau hanya karangan Kevin saja. Yah.. sekaligus mengembalikan note-pad Kevin yang tertinggal.

Halaman rumah yang luas. Rumah mewah bergaya klasik, disertai dengan semi furnishednya yang menawan dan ditata dengan gaya yang elegan. Sebuah hunian yang tentunya akan sangat nyaman bagi semua penghuni rumah. Tapi, siapa yang menyangka rumah seindah ini ternyata menyimpan banyak rahasia yang tak pernah terliput oleh media manapun. Di sinilah rumah yang selalu di incar oleh pencari pelaku pembunuhan yang pernah terjadi. Di sinilah semua kejahatan itu berawal.

Cassandra masuk melewati gerbang berpelitur emas. Awalnya ia ragu, apakah ini benar rumah kekasihnya atau tidak. Tapi, ketika ia melihat mobil Kevin terparkir, ia yakin ini adalah rumahnya. Dengan memberanikan diri, ia memencet bel.

Beberapa menit setelahnya, Kevin membuka pintu. Ia tercengang melihat Cassandra berada di rumahnya. Cassandra memberikan note-pad, lalu Kevin mengajak Cassandra masuk ke dalam rumahnya.

“Vin.. apa benar yang kau tulis di note-pad itu nyata?”

“Ia.. semua yang ku tulis itu benar”

“Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu saja?”

“Aku tak tahu, harus menjelaskannya dari mana. Yang jelas keluargaku memang pengidap psikopat”

Ayah Kevin yang kebetulan mendengar percakapan anaknya marah. Ia menganggap Kevin telah membuka aib keluarga mereka, padahal Kevin tak bermaksud untuk melakukannya. Ayah Kevin bahkan memanggil Ashlan Presscott Maddyor untuk membunuh Cassandra.

Ketika Cassandra masih bercerita. Paman Ashlan datang membawa alat senapan, berusaha membidik Cassandra. Tapi, Kevin yang melihatnya dengan segera menarik lengan Cassandra dan membawanya lari dari rumah. Ia berusaha lari secepat mungkin untuk bisa mengendarai mobil, sementara senapan Paman Ashlan terus diarahkan pada mobil Kevin. Paman Ashlan memang termasuk seorang psikopat berdarah dingin. Tidak memperhatikan rasa manusiawi di dalam bertindak kriminal namun kecerdikannya dalam mengelabui adalah sebuah pertimbangan keluarga Kevin mengutusnya untuk membunuh Kevin.

Kevin dan Cassandra terus mencari tempat yang aman agar tidak ditemukan oleh Paman Ashlan. Hingga akhirnya mereka berdua hidup secara nomaden di dalam hutan beberapa waktu, karena itu adalah satu-satunya cara teraman yang bisa mereka lakukan.

Setelah merasa aman tinggal dalam hutan selama sepekan. Mereka memutuskan untuk keluar dari hutan, tapi kecerdikan Paman Ashlan memang harus diakui oleh Kevin dan Cassandra. Jauh sebelum mereka melewati jalan keluar, Paman Ashlan sudah menyiapkan jebakan istimewa untuk mereka berdua. Tak ada pilihan lain, Kevin dan Cassandra harus turun dari mobil. Saat Kevin menginjakkan kakinya di tanah, Paman Ashlan sudah menyiapkan jebakan pengisap darahnya. Hingga Kevin jatuh tersungkur bersimbah darah. Cassandra panik, ia langsung mengambil pisau yang memang sudah disediakan oleh Kevin, dengan memberanikan diri Cassandra lantas menusuk Paman Ashlan hingga ia pun jatuh, seperti Kevin.

Cassandra lalu memapah tubuh Kevin yang sudah berlumuran darah untuk keluar dari hutan. Ia berusaha mencari pertolongan agar Kevin bisa terselamatkan dan dibawa langsung ke rumah sakit.

John Maddyor yang mengetahui bahwa Paman Ashlan tertikam oleh sebilah pisau, semakin marah. Terlebih lagi saat ia tahu bahwa yang melakukannya adalah Cassandra. Ia semakin gencar untuk ingin menghabiskan nyawa gadis cantik itu. Tapi, usahanya sia-sia Kevin selalu menjaga kekasihnya, meski keadaan Kevin sedang kritis di rumah sakit, ia masih tetap berjaga untuk Cassandra, orang yang amat ia cintai. Bagi Kevin, Cassandra adalah penerang hidupnya, laksana bintang yang bersinar di langit dengan terangnya. Yah.. seperti namanya Cassandra Procyon. Bintang ketujuh yang paling terang di bumi.

Setelah keadaan Kevin membaik, Cassandra mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Kevin menerima tawaran Cassandra. Saat memasuki rumah, Cassandra merasakan ada hal yang berbeda. Rumahnya tidak sedamai yang dulu. Rumahnya hening. Ia membuka pintu rumahnya, berusaha mencari keluarganya.

“Ayah.. ibu… Cassandra datang bersama Kevin”

“. . . . “

Ruangan senyap. Tak ada suara.

Cassandra heran, mengapa tak ada satu pun keluarganya yang terlihat datang menyambutnya. Padahal Cassandra hidup ditengah keluarga yang penuh kasih sayang, ia terbiasa dididik dengan ketulusan.

Ia mulai membuka kamar orang tuanya dan… ia menemukan mayat kedua orang tuanya yang telah membusuk, penuh nanah. Cassandra histeris melihatnya. Kevin buru-buru menghampiri kekasihnya yang ketakutan. Air mata berlinangan diwajah cantik gadis itu. Ia menangis dalam dekapan hangat Kevin.

***

“Hahaha… aku memang tak bisa membunuh gadis bernama Cassandra itu tapi, aku bisa membunuh orang tuanya”

Keangkuhan John Maddyor memang tak pernah hilang, terlebih lagi jika hanya akan dihalangi oleh gadis itu. Ah.. pengalamannya memang sudah membuatnya menjadi seorang psikopat handal. Tak mengenal apa arti perasaan itu. Baginya semua masalah mudah, hanya dengan membunuh semuanya beres.

“Ayolah Sandra.. ku mohon, aku yakin kau bisa kembali menjadi gadis periang”

“PERGI…..!!”

“Cassandra, kau tak dilahirkan untuk mengidap penyakit itu, ayolah sayang..”

“LIHAT SAJA NANTI, AKU AKAN MEMBUNUHMU..!!”

“Ingat kembali namamu sayang, kau adalah Cassandra Procyon..”

“ I WANNA KILL YOU..!!”

 

***

 

Kevin memang berhasil melepaskan dirinya dari statusnya sebagai keluarga psikopat,karena ia sudah tak bersama ayah dan pamannya lagi. Tapi, kini.. kekasihnya, orang yang ia cintai justru berubah menjadi gadis pengidap penyakit yang ia benci.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar