Satanisme cinta
Dan ketika ia mulai terjatuh dalam rasa sakit yang menggelora jiwanya, rasa
sakit yang tak pernah ia inginkan sama sekali. Saat itu juga
seseorang datang merangkulnya, ia tak peduli rangkulan yang ia terima benar
atau tidak. Tak peduli dengan jiwanya yang harus ia jual. Baginya meredam rasa
sakit itu sudah cukup, tak perlu berlebihan.
***
Nayla
Qurrata A’yun. Seorang gadis kelulusan eSeMP yang biasa-biasa saja. Meskipun
hasil ujian nasionalnya adalah yang tertinggi di sekolahnya, tetap saja itu tak
ada artinya karena sekolahnya bukan sekolah favorit atau sekolah bertaraf
internasional. Sekolahnya hanya sekolah rintisan yang tak terjamah oleh media
untuk diliput sebagai sekolah percontohan. Tapi, untuk mendapatkan nilai setinggi
itu, usahanya bukan hanya sekedar datang pagi-pagi lalu menerima pelajaran,
mengerjakan tugas di papan tulis, mengerjakan ujian dengan tepat, lantas pulang
ketika mentari mulai bergelantungan
menerangi lapangan sekolah. Tidak.. ia belajar dari orang sekitarnya, memahami
apa yang ia sebut sebagai sebuah kehidupan. Kehidupan dalam sebuah pesantren.
Orang
tuanya telah lama meninggal, ia kini tinggal di lingkungan pesantren. Meski
bukan berstatus santri ia belajar banyak hal tentang hidup. Hidup di dunia untuk
hidup di akhirat.
Nayla
bertugas sebagai petugas kebersihan.
Setelah ia melaksanakan shalat subuh, ia akan bergegas untuk membersihkan
halaman. Saat ia membersihkan, ia pernah mendengar seorang santri membacakan sebuah kalimat motivasi, “ Dan jagalah hatimu dari penyakit-penyakitnya, sulit mengembangkan
hati yang sudah jauh dari kebenaran. Sesungguhnya hati jika sudah kotor,
membersihkannya bak mengumpulkan kaca yang pecah berserakan ”.
Sebenarnya,
Nayla ingin melanjutkan sekolahnya di pesantren itu, tapi biaya yang ia miliki
tak memadai. Hidupnya serba terbatas. Hingga Nayla terpaksa melanjutkan
sekolahnya di eSeMA yang juga serba terbatas. Hanya segelintir guru yang mau
datang mengajar, yang berjiwa besar seperti Umar Bakri.
Nayla
akrab dengan seorang lulusan santri yang bernama Dzikrul. Saat itu. . .
“ What is your
name? I always meet you in here, but I never know about your self. Can you tell
me?”
Nayla
yang disapa oleh Dzikrul tersenyum. Itu adalah percakapan pertama mereka.
“My name is Nayla”
Percakapan
mereka terus berlanjut, bahkan sepulang sekolah Dzikrul mengajarkan beberapa
pelajaran agama untuk Nayla. Pihak sekolah tak pernah melarang ketika mereka
berdua saling mengajar satu sama lain, karena Dzikrul adalah seorang lulusan
terbaik tahun lalu, ia mendapatkan kesempatan untuk mengabdi selama setahun.
Dan Nayla dikenal sebagai petugas kebersihan yang baik. Jadi, ketika Dzikrul
mengajar Nayla pihak sekolah bahkan turut bangga atas kerelaan Dzikrul untuk
meluangkan waktunya bagi Nayla. . .
Setahun berlalu.
Masa
pengabdian Dzikrul telah berakhir. Nayla bahkan terlihat lebih dewasa, meski
usianya baru enam belas tahun. Keakraban mereka terus terjalin.
Dzikrul
mulai menyadari kedekatannya dengan Nayla ternyata mampu menimbulkan perasaan
yang selama ini ia hindari. Wajar saja, Dzikrul adalah seorang penghafal
qur’an. Enam tahun di pesantren telah mampu membentuk karakternya menjadi
pribadi qur’ani yang penuh dengan pemahaman hidup. Ia berusaha menghilangkan
gejolak-gejolak perasaan itu. Bahkan, ia menghindar untuk bertemu dengan Nayla.
Berhari-hari
Nayla mencari Dzikrul. Ia juga sadar bahwa perasaan suka itu mulai hadir dalam
hidupnya. Hingga saat ia melihat Dzikrul di taman dekat sekolahnya yang dulu.
Nayla benar-benar merasa kehilangan. Ia berlari mendekat lantas memeluknya.
Dzikrul
tercengang. Ia tak tahu mengapa Nayla langsung memeluknya dari belakang.
Batinnya terguncang, ia tahu ini adalah perbuatan yang sama sekali tak boleh ia
lakukan. Tapi, mengapa ia tak menghindar saat dekapan Nayla mulai menghangatkan
tubuhnya . Ia menikmati semuanya.
“Mengapa kau
tak menemuiku selama beberapa hari ini?”
“Maaf.. ku
pikir, perasaan ini harus ku hentikan. Semuanya belum halal”
“Tapi.. kau
mencintaiku bukan?”
“Ia,aku
mencintaimu.. tapi..”
“Ayolah..
jangan kau bohongi perasaanmu”
Saat
itu, ajaran yang diterimanya selama bertahun-tahun hilang, entah kemana. Hafalan
qur’annya yang selama ini menjadi penerang hidupnya seketika luntur oleh nafsu
bejat. Kenangan lamanya tentang keluarganya mulai terputar seperti kaset rusak
yang terputar acak, tak jelas. Perlahan namun pasti ia melupakan dunianya. Ia
dikuasai oleh nafsu-nafsu syahwat. Begitu halnya dengan Nayla. Ia yang pada
dasarnya tak punya pemahaman agama yang cukup, juga terjerat dalam serangan
maut hawa nafsu. Malam itu, ia melakukannya. Melakukan perbuatan yang sama
sekali tak seimbang dengan statusnya sebagai seorang hafidz. Kenangan keluarganya ternyata mampu meruntuhkan imannya.
Meski
pada malam itu, Dzikrul melakukan perbuatan terlarang dengan Nayla. Ia tetap
menjadi pribadi yang terlihat tenang menjalani hidupnya. Ia masih dikenal
sebagai seorang hafidz dan lulusan santri terbaik. Tak ada yang
menyangka bahwa ia telah kalah melawan nafsunya, ia tak ada bedanya dengan
berandalan yang biasa magang dimalam hari mencari mangsa untuk memuaskan
nafsunya.
Nayla
yang sudah terjerat dalam nafsu syahwat mencoba menikmati semuanya. Baginya hidupnya
hanya untuk Dzikrul seorang. Ia juga lupa akan kalimat motivasi yang pernah ia
dengar. Menjalani hidup dengan cinta seperti itu baginya adalah keindahan.
***
Semburat
jingga kembali menyapa ranah kehidupan. Kicau burung juga mulai bersua,
mensyukuri hidup dengan caranya sendiri. Hidup memang indah, maka tak salah
jika Nayla menjalaninya dengan pandangan dan kemauannya sendiri.
Sebulan
kembali berlalu, seperti kejadian yang lalu. Dzikrul kembali menghilang
tiba-tiba. Nayla berusaha mencarinya. Mencarinya di taman dekat sekolah tapi,
hasilnya nihil. Ia tak ada disana. Semalaman Nayla terus mencarinya.
***
“Paman William Greedy
ada di dalam?”
“Kamu siapa?”
“Aku
keluarganya”
Setelah
beberapa menit menunggu Paman William datang. Ia menyambut ramah seorang pemuda yang
hadir dihadapannya. Ia memeluknya seperti seorang ayah yang baru bertemu dengan
anaknya setelah terpisah sekian tahun lamanya. Pemuda itu tersenyum.
***
Sementara
Nayla terus mencari kekasihnya. Seseorang yang telah menikmati keindahan
tubuhnya hanya karena kedekatan mereka yang tak pernah mereka rencanakan sama
sekali. Nayla bingung harus mencarinya dimana, ia tak tahu tentang keluarga
kekasihnya. Ia terlalu percaya bahwa seseorang ahli agama itu bisa dipercaya.
Dan akhirnya ia harus menyesal telah melakukan semuanya. Beruntung ia tak
sampai harus mengandung. Saat itu, Nayla memang belum mengalami hal seperti wanita
pada umumnya. Ia seharusnya bersyukur.
Meski
Nayla bisa menerima kenyataan bahwa ia ditinggal pergi begitu saja oleh
kekasihnya, tapi ia berubah menjadi garis pemurung. Raut kecantikan wajahnya
luntur begitu saja, ia bahkan jarang tersenyum. Ia memutuskan untuk mengakhiri
hidupnya saja. Tapi, seseorang datang merangkulnya dari keterpurukan. Ia datang
bagai malaikat dalam hidupnya, dan Nayla begitu percaya dengannya. Nayla hanya
tahu bahwa pemuda itu bagai malaikat, ia tak tahu bahwa jin bisa saja berpura-pura
menjadi malaikat baik untuk menggencarkan misi jahatnya.
Dialah Gerard Greedy.
***
Nayla
menjalani kehidupan barunya bersama Gerard. Meski Gerard adalah seorang penganut satanisme, ia tetap berteman dengannya. Tak pernah membeda-bedakan. Gerard
adalah seorang pemuda berumur sembilan belas tahun, ia memang lebih tua jika
dibandingkan dengan Nayla. Tapi, Nayla menganggap semua perbedaan itu sebagai
bagian dari kebersamaan. Toh.. Nayla juga sudah melupakan
keinginan-keinginannya untuk mendalami agama lebih dalam lagi. Tubuhnya telah
ternodai, ia tak pantas menempah ilmu dalam lingkungan itu. Lagi pula seorang
lulusan terbaik bahkan penghafal qur’an pula yang telah merenggut kebahagiaannya. Jadi, untuk
apa bercita-cita meraih kesuksesan berlatar agama seperti itu. Semuanya
munafik. Meski jauh dilubuk hati Nayla.. ia merindukan ketenangan jiwa yang
hakiki. Ia rindu merasakan sejuknya air wudhu yang membalut tubuh, ia rindu
mendengar lantunan qur’an dibacakan begitu merdu. Ia rindu semuanya, namun
sayang.. kekecewaan membuatnya mengabaikan serpihan-serpihan hidupnya yang
lalu.
Gerard
selalu menemani Nayla. Menemaninya melihat bintang gemintang di langit. Mereka
membentuk formasi-formasi indah. Tiba-tiba Nayla
menangis. Ia tertunduk, menatap kosong. Air matanya bagai bulir-bulir air
memberikan guratan kepedihan diwajahnya. Gerard yang melihatnya, memeluk iba.
Ia biarkan Nayla dalam dekapannya. Nayla merindukan orang tuanya. . .
Nayla
kecil bergaya didepan cermin. Mengikat rambutnya dengan pita cantik berwarna
merah muda. Ibunya mencium keningnya lembut. Nayla kecil protes.
“Ibu.. tas Nayla kebesaran..!”
Ibunya
hanya bisa mengusap dada. Ia memang tak bisa memberikan tas baru untuk Nayla.
Tas itu hanya pemberian dari seorang santri. . .
Nayla
yang masih dalam pelukan Gerard merasa mendapatkan kasih sayang yang selama ini
tak ia dapatkan. Gerard datang dalam kehidupannya menemani kekecewaannya pada
takdir yang ia terima. Kini, raut wajah Nayla mulai merekahkan senyum. Lesung
pipinya indah. Pancaran jiwanya mulai terlihat seperti dulu lagi.
***
Dzikrul
kembali mendatangi Paman William. Paman William adalah seorang keturunan
penganut paham satanisme. Meski keluarganya termasuk dalam aliran sesat seperti
itu, Dzikrul tak pernah membenci keluarganya. Dikeluarganya ialah satu-satunya
yang masuk dalam agama islam, itu karena saat kecil ia bergaul dengan sesama muslim. Beruntung ia diizinkan untuk
mengenyam pendidikan di pesantren. Dzikrul memiliki kakak, namanya Gerard Greedy. Dengan berbagai macam usaha Dzikrul
selalu mengajak pamannya dan kakaknya untuk memeluk agama islam,tapi ia belum
berhasil.
***
Nayla
kini mulai membuka hati untuk Gerard, namun ia ragu akan cintanya karena Gerard
tak sepaham dengannya mengenai agama. Gerard yang mulai melihat tingkah Nayla yang berubah, justru tersenyum sumringah. Akhirnya ia mulai
terpengaruh juga.
Gerard
Greedy adalah seorang ahli satanisme. Aliran penyembah setan dan
menjadikannya sebagai Tuhan. Gerakan sesat ini memiliki ajaran melaksanakan
hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Satanisme menjadikan setan sebagai
lambang kejahatan sebagai pemimpin dan pembimbing. Ia
adalah orang yang berperan penting dalam menyebarluaskan alirannya.
Nayla yang telah menganggap Gerard sebagai penyelamatnya yang membantunya
keluar dari keterpurukannya saat ditinggal oleh Dzikrul dengan senang hati
menerima tawaran Gerard untuk masuk dalam alirannya. Meski Nayla tak sampai mengganti namanya seperti Gerard. Tapi, tingkahnya tak jauh bedanya dengan penganut aliran
itu. Ia mulai gencar melaksanakan misi-misi alirannya. Ia bahkan tampak lebih handal.
“Ayolah paman.. dengarkan penjelasanku.. bagaimana mungkin paman bisa
menyembah setan sebagai Tuhan..”
“Itu memang tujuan hidupku. Aku adalah bagian dari aliran ini”
“Sudahlah.. kau hidupi saja hidupmu, seharusnya kau bersyukur paman
mengizinkanmu sekolah di pesantren itu. Tidak seperti kakakmu”
Dzikrul
kecewa, paman yang paling ia sayangi hingga saat ini belum bisa menganut agama
seperti yang ia yakini. Padahal ia rela meninggalkan Nayla sendiri hanya untuk pamannya. Ia mengorbankan cinta pertamanya
demi keluarganya, ia rela Nayla menganggapnya sebagai lelaki
tak bertanggung jawab.
***
Diantara
sekelumit masalah ini, Gerard yang akan sangat bahagia. Ia
mampu mengajak Nayla untuk bergabung dalam
melaksanakan misinya. Dan itu adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi
alirannya.Dengan lihai Nayla semakin terjerat dalam misi Gerard. Ia benar-benar telah menjual jiwanya demi dunia yang bisa ia
genggam.
Hingga
saat Dzikrul melihat Nayla dan Gerard jalan bersama. Ia mulai curiga, ia bahkan takut jikalau Nayla telah menjual jiwanya pada setan-setan itu. Dzikrul mengikuti
mereka berdua.
“Paman.. kemarin aku melihat kakak dengan seorang gadis. Ia siapa?”
“Itu kekasih kakakmu, ia baru saja berhasil menjadikan gadis itu
menjual jiwanya”
Jiwanya
tersontak kaget. Ia tak pernah menyangka gadis yang menjadi cinta pertamanya
justru telah menjual jiwanya pada setan. Sungguh, hal yang tak pernah terlintas
dibenaknya. Dzikrul segera mencari alamat baru Nayla
tapi, ia tak menemukannya.
Ia
kembali menemui Paman William
di rumahnya, tapi saat ia tiba pamannya tak membuka pintu. Karena merasa
terdesak Dzikrul masuk ke dalam rumah. Ia mencari pamannya di kamar. Dan...
saat itu ia kembali dikejutkan oleh suatu hal. Pamannya sedang shalat.
Entah,
perasaan seperti apa yang berkecamuk dalam jiwanya. Rasa haru yang tak
terkirakan. Dzikrul duduk, menunggu pamannya selesai shalat. hingga pamannya selesai
shalat, ia langsung memeluk pamannya. Sungguh.. hal yang tak pernah terpikirkan
sebelumnya.
Dimalam
itu, Paman William mulai berterus terang pada Dzikrul. Sebenarnya Paman William
telah masuk islam saat Dzikrul lahir. Itulah sebabnya dia
mengizinkannya belajar dalam sebuah pondok, agar ia bisa mengerti betul tentang
agama. Tidak seperti kakaknya yang justru menjadi pelopor aliran-aliran itu.
Dengan
kemantapan hati, Dzikrul datang mengunjungi Nayla bersama kakaknya. Gerard heran melihat Dzikrul yang datang mendadak di rumahnya. Nayla bahkan lebih
terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan Dzikrul
setelah lama tak bertemu dengannya.
Gerard Greedy dan Dzikrul Abrar Masajid. Keduanya bersaudara. Hanya saja
perbedaan agama menjadikan mereka terpisah. Paman William Greedy yang merawat
mereka memang memberikan pilihan yang berbeda untuk keduanya. Dzikrul pada
agamanya, dan Gerard dengan aliran satanismenya. Meski Dzikrul telah mengetahui
bahwa pamannya juga seagama dengannya, Gerard tak pernah tahu akan hal itu. Paman
William masih merahasiakan agamanya karena, ia adalah pimpinan dari aliran
satanisme. Bagaimana mungkin ia akan terang- terangan mengumumkan agama
barunya. Semua anggotanya telah menjual jiwanya pada setan. Semuanya telah
menjadi pemuja setan. Itulah, ia ingin Dzikrul menjadi penyelamat bagi semua
anggota-anggota pemuja setan itu.
Dzikrul mendekati Nayla. Ia berusaha mengembalikan jiwanya. Tapi, hasilnya
sama saja. Nayla semakin menjadi-jadi dengan alirannya ia bahkan berpura-pura
mendekati Dzikrul agar ia bisa menjual jiwanya pada setan. Sama sepertinya.
Gerard memberikan banyak paham-paham yang baru pada Nayla, agar ia bisa
membuat Dzikrul juga ikut dalam alirannya. Nayla kembali menjalin hubungannya
dengan Dzikrul. Sedangkan Dzikrul berharap dengan kedekatannya ini, ia bisa
mengembalikan jiwa Nayla yang sebenarnya.
Sepekan berlalu. Nayla memang mulai berubah. Ia hampir kembali seperti Nayla
yang dulu. Dzikrul bahkan mengajaknya untuk menikah dan ia telah meminta maaf
karena telah meninggalkannya dulu. Nayla memaafkan Dzikrul begitu saja.
Mereka berdua bahkan sering mendatangi Paman William, mengajaknya bercerita
tentang pandangan agama islam yang baru ia pahami. Mereka seakan-akan menemukan
filosofi hidup yang sebenarnya. Dzikrul bahkan benar-benar serius mengajak Nayla
untuk menikah.
Karena Nayla tak memiliki seorang wali, maka hakimlah yang menyaksikan
pernikahan mereka. Acaranya berlangsung sederhana. Hanya dihadiri oleh beberapa
kerabat dekat dan Paman William. Paman William bahkan harus bersembunyi untuk
menghadiri acara pernikahan mereka, karena ia masih berstatus sebagai pemimpin
aliran satanisme.
“Kau ternyata berhasil membuatnya berada dalam
genggamanmu”
“Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padanya”
Gerard semakin merasa dalam lingkaran setan dengan kejayaan penuh, ia
berhasil membuat keduanya terjerat dalam misinya. Gerard tak peduli, meski Dzikrul
adalah saudaranya.. toh, agama mereka berbeda untuk apa berbelas kasih padanya.
***
Ketika rembulan samar-samar memberikan pancaran sinarnya. Saat itu, Nayla
sudah bersama Dzikrul. Malam itu memang menjadi milik mereka berdua. Tak ada
lagi batasan haram antara mereka berdua tapi, kali ini semuanya berbeda. Nayla
telah menjual jiwanya pada setan. Ia perlahan-lahan mengambil sebilah pisau
lalu menancapkan pada jantung Dzikrul. Dzikrul memohon pertolongan pada Nayla,
tapi jiwa setan yang ada pada tubuhnya melupakan apa arti ketulusan yang
sebenarnya. Ia lupa akan pentingnya hati suci. Hatinya kini bagaikan pecahan
kaca yang berserakan. Sulit mengumpulkannya.
Tapi, tidak dengan Dzikrul. Meski, kekuatan hafalannya pernah hilang
termakan oleh nafsu syahwat setan hingga membuatnya melakukan perbuatan bejat. Saat
itu pertolongan penguasa langit menghampirinya. Ia dipenuhi oleh kekuatan untuk
melawan takdir buruk yang sengaja dirancang oleh nayla. Dzikrul memang punya
malaikat sendiri yang selalu mengawasinya. Malaikatnya tentu saja tak tega
melihat seorang penghafidz itu jatuh kedalam kenistaan yang lebih jauh
lagi. Dzikrul bangkit, Nayla yang baru saja tertawa puas telah berhasil
menyelesaikan misinya terperanjat kaget. Ia tak menyangka Dzikrul tetap
terlihat baik-baik saja. Tak ada lumuran darah dari tubuhnya.
Dzikrul bukanlah seorang pendendam. Ia tetap memaafkan niat buruk Nayla, ia
yakin itu bukan Naylanya.. itu adalah jiwa setan yang bersemayam dalam tubuhnya.
Dzikrul membawa Nayla pergi ke suatu desa. Desa yang tenang. Jauh dari
hiruk-pikuk dunia metropolitan. Disana ia mencoba mengembalikan jiwa Nayla yang
sebenarnya. Berhari-hari Dzikrul berkutat dihadapan layar monitor, mencoba
menggabungkan sistem syaraf Nayla ke dalam monitor dihadapannya. Lewat layar
itu ia bisa melihat bagaimana sistem syaraf Nayla terkontrol dengan cara yang berbeda
dari manusia pada umumnya. Sistem syaraf otonomnya telah terkontrol oleh setan.
Dzikrul berusaha mencari cara agar syarafnya bisa berjalan seperti biasanya. Ia
pun mengontrol Nayla mulai dari bangun tidurnya yang harus sesuai dengan siklus
yang tertera dimonitor.
Sebulan berlalu, usaha Dzikrul tak sia-sia. Berkat usahanya yang tak pernah
jenuh, ia bisa mengembalikan jiwa Nayla. Setiap sepertiga malam ia habiskan
waktunya untuk bertemu dengan sang pemilik semesta. Ia mengadukan semua keluh
kesahnya, ia berharap agar Nayla bisa seperti dulu lagi. Dan yah.. takdir
memang selalu memberikan jawabannya sendiri, tanpa pernah kita tahu akhirnya. Nayla
benar-benar telah kembali menjadi Naylanya, bukan jiwa setan yang terpendam
licik.
Gerard Greedy yang saat itu berada diatas puncak kejayaannya, kini harus
menanggung kenyataan takdir yang ia alami. Misinya dalam menyebarluaskan aliran
satanismenya memang terhenti pada saudaranya. Tapi, kelicikannya tak pernah
hilang. Ia bahkan rela menunggu saudaranya bertahun-tahun untuk memiliki
momongan dan ia akan mengalirkan ajarannya pada anak saudaranya kelak. Lihat
saja nanti.
***
Rasa sakit memang bisa menjadikan seseorang berubah, bahkan ada banyak cara
yang akan ia lakukan untuk menenangkan gelora jiwanya, meski jalan sesat
sekalipun. Tapi, kekuatan cinta dan ketulusan hati itu benar-benar ada bagi
jiwa yang senantiasa bersabar menjalani takdir. Proses kehidupan selalu sesuai
siklusnya sendiri. Ada banyak cara untuk mengecap indahnya perjuangan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar