Halaman

Kamis, 22 November 2012

satanisme cinta


Satanisme cinta

Dan ketika ia mulai terjatuh dalam rasa sakit yang menggelora jiwanya, rasa sakit yang tak pernah ia inginkan sama sekali. Saat itu juga seseorang datang merangkulnya, ia tak peduli rangkulan yang ia terima benar atau tidak. Tak peduli dengan jiwanya yang harus ia jual. Baginya meredam rasa sakit itu sudah cukup, tak perlu berlebihan.
***
Nayla Qurrata A’yun. Seorang gadis kelulusan eSeMP yang biasa-biasa saja. Meskipun hasil ujian nasionalnya adalah yang tertinggi di sekolahnya, tetap saja itu tak ada artinya karena sekolahnya bukan sekolah favorit atau sekolah bertaraf internasional. Sekolahnya hanya sekolah rintisan yang tak terjamah oleh media untuk diliput sebagai sekolah percontohan. Tapi, untuk mendapatkan nilai setinggi itu, usahanya bukan hanya sekedar datang pagi-pagi lalu menerima pelajaran, mengerjakan tugas di papan tulis, mengerjakan ujian dengan tepat, lantas pulang ketika mentari  mulai bergelantungan menerangi lapangan sekolah. Tidak.. ia belajar dari orang sekitarnya, memahami apa yang ia sebut sebagai sebuah kehidupan. Kehidupan dalam sebuah pesantren.
Orang tuanya telah lama meninggal, ia kini tinggal di lingkungan pesantren. Meski bukan berstatus santri ia belajar banyak hal tentang hidup. Hidup di dunia untuk hidup di akhirat.
Nayla bertugas sebagai  petugas kebersihan. Setelah ia melaksanakan shalat subuh, ia akan bergegas untuk membersihkan halaman. Saat ia membersihkan, ia pernah mendengar seorang santri  membacakan sebuah kalimat motivasi, “ Dan jagalah hatimu dari penyakit-penyakitnya, sulit mengembangkan hati yang sudah jauh dari kebenaran. Sesungguhnya hati jika sudah kotor, membersihkannya bak mengumpulkan kaca yang pecah berserakan ”.
Sebenarnya, Nayla ingin melanjutkan sekolahnya di pesantren itu, tapi biaya yang ia miliki tak memadai. Hidupnya serba terbatas. Hingga Nayla terpaksa melanjutkan sekolahnya di eSeMA yang juga serba terbatas. Hanya segelintir guru yang mau datang mengajar, yang berjiwa besar seperti Umar Bakri.
Nayla akrab dengan seorang lulusan santri yang bernama Dzikrul. Saat itu. . .
“ What is your name? I always meet you in here, but I never know about your self. Can you tell me?”
Nayla yang disapa oleh Dzikrul tersenyum. Itu adalah percakapan pertama mereka.
“My name is Nayla”
Percakapan mereka terus berlanjut, bahkan sepulang sekolah Dzikrul mengajarkan beberapa pelajaran agama untuk Nayla. Pihak sekolah tak pernah melarang ketika mereka berdua saling mengajar satu sama lain, karena Dzikrul adalah seorang lulusan terbaik tahun lalu, ia mendapatkan kesempatan untuk mengabdi selama setahun. Dan Nayla dikenal sebagai petugas kebersihan yang baik. Jadi, ketika Dzikrul mengajar Nayla pihak sekolah bahkan turut bangga atas kerelaan Dzikrul untuk meluangkan waktunya bagi Nayla. . .
Setahun berlalu.
Masa pengabdian Dzikrul telah berakhir. Nayla bahkan terlihat lebih dewasa, meski usianya baru enam belas tahun. Keakraban mereka terus terjalin.
Dzikrul mulai menyadari kedekatannya dengan Nayla ternyata mampu menimbulkan perasaan yang selama ini ia hindari. Wajar saja, Dzikrul adalah seorang penghafal qur’an. Enam tahun di pesantren telah mampu membentuk karakternya menjadi pribadi qur’ani yang penuh dengan pemahaman hidup. Ia berusaha menghilangkan gejolak-gejolak perasaan itu. Bahkan, ia menghindar untuk bertemu dengan Nayla.
Berhari-hari Nayla mencari Dzikrul. Ia juga sadar bahwa perasaan suka itu mulai hadir dalam hidupnya. Hingga saat ia melihat Dzikrul di taman dekat sekolahnya yang dulu. Nayla benar-benar merasa kehilangan. Ia berlari mendekat lantas memeluknya.
Dzikrul tercengang. Ia tak tahu mengapa Nayla langsung memeluknya dari belakang. Batinnya terguncang, ia tahu ini adalah perbuatan yang sama sekali tak boleh ia lakukan. Tapi, mengapa ia tak menghindar saat dekapan Nayla mulai menghangatkan tubuhnya . Ia menikmati semuanya.
“Mengapa kau tak menemuiku selama beberapa hari ini?”
“Maaf.. ku pikir, perasaan ini harus ku hentikan. Semuanya belum halal”
“Tapi.. kau mencintaiku bukan?”
“Ia,aku mencintaimu.. tapi..”
“Ayolah.. jangan kau bohongi perasaanmu”
Saat itu, ajaran yang diterimanya selama bertahun-tahun hilang, entah kemana. Hafalan qur’annya yang selama ini menjadi penerang hidupnya seketika luntur oleh nafsu bejat. Kenangan lamanya tentang keluarganya mulai terputar seperti kaset rusak yang terputar acak, tak jelas. Perlahan namun pasti ia melupakan dunianya. Ia dikuasai oleh nafsu-nafsu syahwat. Begitu halnya dengan Nayla. Ia yang pada dasarnya tak punya pemahaman agama yang cukup, juga terjerat dalam serangan maut hawa nafsu. Malam itu, ia melakukannya. Melakukan perbuatan yang sama sekali tak seimbang dengan statusnya sebagai seorang hafidz. Kenangan keluarganya ternyata mampu meruntuhkan imannya.
Meski pada malam itu, Dzikrul melakukan perbuatan terlarang dengan Nayla. Ia tetap menjadi pribadi yang terlihat tenang menjalani hidupnya. Ia masih dikenal sebagai seorang hafidz dan lulusan santri terbaik. Tak ada yang menyangka bahwa ia telah kalah melawan nafsunya, ia tak ada bedanya dengan berandalan yang biasa magang dimalam hari mencari mangsa untuk memuaskan nafsunya.
Nayla yang sudah terjerat dalam nafsu syahwat mencoba menikmati semuanya. Baginya hidupnya hanya untuk Dzikrul seorang. Ia juga lupa akan kalimat motivasi yang pernah ia dengar. Menjalani hidup dengan cinta seperti itu baginya adalah keindahan.
***
Semburat jingga kembali menyapa ranah kehidupan. Kicau burung juga mulai bersua, mensyukuri hidup dengan caranya sendiri. Hidup memang indah, maka tak salah jika Nayla menjalaninya dengan pandangan dan kemauannya sendiri.
Sebulan kembali berlalu, seperti kejadian yang lalu. Dzikrul kembali menghilang tiba-tiba. Nayla berusaha mencarinya. Mencarinya di taman dekat sekolah tapi, hasilnya nihil. Ia tak ada disana. Semalaman Nayla terus mencarinya.

***
“Paman William Greedy ada di dalam?”
“Kamu siapa?”
“Aku keluarganya”
Setelah beberapa menit menunggu Paman William  datang. Ia menyambut ramah seorang pemuda yang hadir dihadapannya. Ia memeluknya seperti seorang ayah yang baru bertemu dengan anaknya setelah terpisah sekian tahun lamanya. Pemuda itu tersenyum.
***
Sementara Nayla terus mencari kekasihnya. Seseorang yang telah menikmati keindahan tubuhnya hanya karena kedekatan mereka yang tak pernah mereka rencanakan sama sekali. Nayla bingung harus mencarinya dimana, ia tak tahu tentang keluarga kekasihnya. Ia terlalu percaya bahwa seseorang ahli agama itu bisa dipercaya. Dan akhirnya ia harus menyesal telah melakukan semuanya. Beruntung ia tak sampai harus mengandung. Saat itu, Nayla memang belum mengalami hal seperti wanita pada umumnya. Ia seharusnya bersyukur.
Meski Nayla bisa menerima kenyataan bahwa ia ditinggal pergi begitu saja oleh kekasihnya, tapi ia berubah menjadi garis pemurung. Raut kecantikan wajahnya luntur begitu saja, ia bahkan jarang tersenyum. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja. Tapi, seseorang datang merangkulnya dari keterpurukan. Ia datang bagai malaikat dalam hidupnya, dan Nayla begitu percaya dengannya. Nayla hanya tahu bahwa pemuda itu bagai malaikat, ia tak tahu bahwa jin bisa saja berpura-pura menjadi malaikat baik untuk menggencarkan misi jahatnya.
Dialah Gerard Greedy.
***
Nayla menjalani kehidupan barunya bersama Gerard. Meski Gerard adalah seorang penganut satanisme, ia tetap berteman dengannya. Tak pernah membeda-bedakan. Gerard adalah seorang pemuda berumur sembilan belas tahun, ia memang lebih tua jika dibandingkan dengan Nayla. Tapi, Nayla menganggap semua perbedaan itu sebagai bagian dari kebersamaan. Toh.. Nayla juga sudah melupakan keinginan-keinginannya untuk mendalami agama lebih dalam lagi. Tubuhnya telah ternodai, ia tak pantas menempah ilmu dalam lingkungan itu. Lagi pula seorang lulusan terbaik bahkan penghafal qur’an pula yang  telah merenggut kebahagiaannya. Jadi, untuk apa bercita-cita meraih kesuksesan berlatar agama seperti itu. Semuanya munafik. Meski jauh dilubuk hati Nayla.. ia merindukan ketenangan jiwa yang hakiki. Ia rindu merasakan sejuknya air wudhu yang membalut tubuh, ia rindu mendengar lantunan qur’an dibacakan begitu merdu. Ia rindu semuanya, namun sayang.. kekecewaan membuatnya mengabaikan serpihan-serpihan hidupnya yang lalu.
Gerard selalu menemani Nayla. Menemaninya melihat bintang gemintang di langit. Mereka membentuk formasi-formasi indah. Tiba-tiba Nayla menangis. Ia tertunduk, menatap kosong. Air matanya bagai bulir-bulir air memberikan guratan kepedihan diwajahnya. Gerard yang melihatnya, memeluk iba. Ia biarkan Nayla dalam dekapannya. Nayla merindukan orang tuanya. . .
Nayla kecil bergaya didepan cermin. Mengikat rambutnya dengan pita cantik berwarna merah muda. Ibunya mencium keningnya lembut. Nayla kecil protes.
Ibu.. tas Nayla kebesaran..!”
Ibunya hanya bisa mengusap dada. Ia memang tak bisa memberikan tas baru untuk Nayla. Tas itu hanya pemberian dari seorang santri. . .
Nayla yang masih dalam pelukan Gerard merasa mendapatkan kasih sayang yang selama ini tak ia dapatkan. Gerard datang dalam kehidupannya menemani kekecewaannya pada takdir yang ia terima. Kini, raut wajah Nayla mulai merekahkan senyum. Lesung pipinya indah. Pancaran jiwanya mulai terlihat seperti dulu lagi.
***
Dzikrul kembali mendatangi Paman William. Paman William adalah seorang keturunan penganut paham satanisme. Meski keluarganya termasuk dalam aliran sesat seperti itu, Dzikrul tak pernah membenci keluarganya. Dikeluarganya ialah satu-satunya yang masuk dalam agama islam, itu karena saat kecil ia bergaul dengan sesama muslim. Beruntung ia diizinkan untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Dzikrul memiliki kakak, namanya Gerard Greedy. Dengan berbagai macam usaha Dzikrul selalu mengajak pamannya dan kakaknya untuk memeluk agama islam,tapi ia belum berhasil.
***
Nayla kini mulai membuka hati untuk Gerard, namun ia ragu akan cintanya karena Gerard tak sepaham dengannya mengenai agama. Gerard yang mulai melihat tingkah Nayla yang berubah, justru tersenyum sumringah. Akhirnya ia mulai terpengaruh juga.
Gerard Greedy adalah seorang ahli satanisme. Aliran penyembah setan dan menjadikannya sebagai Tuhan. Gerakan sesat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Satanisme menjadikan setan sebagai lambang kejahatan sebagai pemimpin dan pembimbing. Ia adalah orang yang berperan penting dalam menyebarluaskan alirannya.
Nayla yang telah menganggap Gerard sebagai penyelamatnya yang membantunya keluar dari keterpurukannya saat ditinggal oleh Dzikrul dengan senang hati menerima tawaran Gerard untuk masuk dalam alirannya. Meski Nayla tak sampai mengganti namanya seperti Gerard. Tapi, tingkahnya tak jauh bedanya dengan penganut aliran itu. Ia mulai gencar melaksanakan misi-misi alirannya.  Ia bahkan tampak lebih handal.
Ayolah paman.. dengarkan penjelasanku.. bagaimana mungkin paman bisa menyembah setan sebagai Tuhan..”
Itu memang tujuan hidupku. Aku adalah bagian dari aliran ini”
Sudahlah.. kau hidupi saja hidupmu, seharusnya kau bersyukur paman mengizinkanmu sekolah di pesantren itu. Tidak seperti kakakmu”
Dzikrul kecewa, paman yang paling ia sayangi hingga saat ini belum bisa menganut agama seperti yang ia yakini. Padahal ia rela meninggalkan Nayla sendiri hanya untuk pamannya. Ia mengorbankan cinta pertamanya demi keluarganya, ia rela Nayla menganggapnya sebagai lelaki tak bertanggung jawab.
***
Diantara sekelumit masalah ini, Gerard yang akan sangat bahagia. Ia mampu mengajak Nayla untuk bergabung dalam melaksanakan misinya. Dan itu adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi alirannya.Dengan lihai Nayla semakin terjerat dalam misi Gerard. Ia benar-benar telah menjual jiwanya demi dunia yang bisa ia genggam.
Hingga saat Dzikrul melihat Nayla dan Gerard jalan bersama. Ia mulai curiga, ia bahkan takut jikalau Nayla telah menjual jiwanya pada setan-setan itu. Dzikrul mengikuti mereka berdua.
Paman.. kemarin aku melihat kakak dengan seorang gadis. Ia siapa?”
Itu kekasih kakakmu, ia baru saja berhasil menjadikan gadis itu menjual jiwanya”
Jiwanya tersontak kaget. Ia tak pernah menyangka gadis yang menjadi cinta pertamanya justru telah menjual jiwanya pada setan. Sungguh, hal yang tak pernah terlintas dibenaknya. Dzikrul segera mencari alamat baru Nayla tapi, ia tak menemukannya.
Ia kembali menemui Paman William di rumahnya, tapi saat ia tiba pamannya tak membuka pintu. Karena merasa terdesak Dzikrul masuk ke dalam rumah. Ia mencari pamannya di kamar. Dan... saat itu ia kembali dikejutkan oleh suatu hal. Pamannya sedang shalat.
Entah, perasaan seperti apa yang berkecamuk dalam jiwanya. Rasa haru yang tak terkirakan. Dzikrul duduk, menunggu pamannya selesai shalat. hingga pamannya selesai shalat, ia langsung memeluk pamannya. Sungguh.. hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Dimalam itu, Paman William mulai berterus terang pada Dzikrul. Sebenarnya Paman William telah masuk islam saat Dzikrul lahir. Itulah sebabnya dia mengizinkannya belajar dalam sebuah pondok, agar ia bisa mengerti betul tentang agama. Tidak seperti kakaknya yang justru menjadi pelopor aliran-aliran itu.
Dengan kemantapan hati, Dzikrul datang mengunjungi Nayla bersama kakaknya. Gerard heran melihat Dzikrul yang datang mendadak di rumahnya. Nayla bahkan lebih terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan Dzikrul setelah lama tak bertemu dengannya.
Gerard Greedy dan Dzikrul Abrar Masajid. Keduanya bersaudara. Hanya saja perbedaan agama menjadikan mereka terpisah. Paman William Greedy yang merawat mereka memang memberikan pilihan yang berbeda untuk keduanya. Dzikrul pada agamanya, dan Gerard dengan aliran satanismenya. Meski Dzikrul telah mengetahui bahwa pamannya juga seagama dengannya, Gerard tak pernah tahu akan hal itu. Paman William masih merahasiakan agamanya karena, ia adalah pimpinan dari aliran satanisme. Bagaimana mungkin ia akan terang- terangan mengumumkan agama barunya. Semua anggotanya telah menjual jiwanya pada setan. Semuanya telah menjadi pemuja setan. Itulah, ia ingin Dzikrul menjadi penyelamat bagi semua anggota-anggota pemuja setan itu.
Dzikrul mendekati Nayla. Ia berusaha mengembalikan jiwanya. Tapi, hasilnya sama saja. Nayla semakin menjadi-jadi dengan alirannya ia bahkan berpura-pura mendekati Dzikrul agar ia bisa menjual jiwanya pada setan. Sama sepertinya.
Gerard memberikan banyak paham-paham yang baru pada Nayla, agar ia bisa membuat Dzikrul juga ikut dalam alirannya. Nayla kembali menjalin hubungannya dengan Dzikrul. Sedangkan Dzikrul berharap dengan kedekatannya ini, ia bisa mengembalikan jiwa Nayla yang sebenarnya.
Sepekan berlalu. Nayla memang mulai berubah. Ia hampir kembali seperti Nayla yang dulu. Dzikrul bahkan mengajaknya untuk menikah dan ia telah meminta maaf karena telah meninggalkannya dulu. Nayla memaafkan Dzikrul begitu saja.
Mereka berdua bahkan sering mendatangi Paman William, mengajaknya bercerita tentang pandangan agama islam yang baru ia pahami. Mereka seakan-akan menemukan filosofi hidup yang sebenarnya. Dzikrul bahkan benar-benar serius mengajak Nayla untuk menikah.
Karena Nayla tak memiliki seorang wali, maka hakimlah yang menyaksikan pernikahan mereka. Acaranya berlangsung sederhana. Hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dekat dan Paman William. Paman William bahkan harus bersembunyi untuk menghadiri acara pernikahan mereka, karena ia masih berstatus sebagai pemimpin aliran satanisme.
“Kau ternyata berhasil membuatnya berada dalam genggamanmu”
“Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padanya”
Gerard semakin merasa dalam lingkaran setan dengan kejayaan penuh, ia berhasil membuat keduanya terjerat dalam misinya. Gerard tak peduli, meski Dzikrul adalah saudaranya.. toh, agama mereka berbeda untuk apa berbelas kasih padanya.
***
Ketika rembulan samar-samar memberikan pancaran sinarnya. Saat itu, Nayla sudah bersama Dzikrul. Malam itu memang menjadi milik mereka berdua. Tak ada lagi batasan haram antara mereka berdua tapi, kali ini semuanya berbeda. Nayla telah menjual jiwanya pada setan. Ia perlahan-lahan mengambil sebilah pisau lalu menancapkan pada jantung Dzikrul. Dzikrul memohon pertolongan pada Nayla, tapi jiwa setan yang ada pada tubuhnya melupakan apa arti ketulusan yang sebenarnya. Ia lupa akan pentingnya hati suci. Hatinya kini bagaikan pecahan kaca yang berserakan. Sulit mengumpulkannya.
Tapi, tidak dengan Dzikrul. Meski, kekuatan hafalannya pernah hilang termakan oleh nafsu syahwat setan hingga membuatnya melakukan perbuatan bejat. Saat itu pertolongan penguasa langit menghampirinya. Ia dipenuhi oleh kekuatan untuk melawan takdir buruk yang sengaja dirancang oleh nayla. Dzikrul memang punya malaikat sendiri yang selalu mengawasinya. Malaikatnya tentu saja tak tega melihat seorang penghafidz itu jatuh kedalam kenistaan yang lebih jauh lagi. Dzikrul bangkit, Nayla yang baru saja tertawa puas telah berhasil menyelesaikan misinya terperanjat kaget. Ia tak menyangka Dzikrul tetap terlihat baik-baik saja. Tak ada lumuran darah dari tubuhnya.
Dzikrul bukanlah seorang pendendam. Ia tetap memaafkan niat buruk Nayla, ia yakin itu bukan Naylanya.. itu adalah jiwa setan yang bersemayam dalam tubuhnya. Dzikrul membawa Nayla pergi ke suatu desa. Desa yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk dunia metropolitan. Disana ia mencoba mengembalikan jiwa Nayla yang sebenarnya. Berhari-hari Dzikrul berkutat dihadapan layar monitor, mencoba menggabungkan sistem syaraf Nayla ke dalam monitor dihadapannya. Lewat layar itu ia bisa melihat bagaimana sistem syaraf Nayla terkontrol dengan cara yang berbeda dari manusia pada umumnya. Sistem syaraf otonomnya telah terkontrol oleh setan. Dzikrul berusaha mencari cara agar syarafnya bisa berjalan seperti biasanya. Ia pun mengontrol Nayla mulai dari bangun tidurnya yang harus sesuai dengan siklus yang tertera dimonitor.
Sebulan berlalu, usaha Dzikrul tak sia-sia. Berkat usahanya yang tak pernah jenuh, ia bisa mengembalikan jiwa Nayla. Setiap sepertiga malam ia habiskan waktunya untuk bertemu dengan sang pemilik semesta. Ia mengadukan semua keluh kesahnya, ia berharap agar Nayla bisa seperti dulu lagi. Dan yah.. takdir memang selalu memberikan jawabannya sendiri, tanpa pernah kita tahu akhirnya. Nayla benar-benar telah kembali menjadi Naylanya, bukan jiwa setan yang terpendam licik.
Gerard Greedy yang saat itu berada diatas puncak kejayaannya, kini harus menanggung kenyataan takdir yang ia alami. Misinya dalam menyebarluaskan aliran satanismenya memang terhenti pada saudaranya. Tapi, kelicikannya tak pernah hilang. Ia bahkan rela menunggu saudaranya bertahun-tahun untuk memiliki momongan dan ia akan mengalirkan ajarannya pada anak saudaranya kelak. Lihat saja nanti.
***
Rasa sakit memang bisa menjadikan seseorang berubah, bahkan ada banyak cara yang akan ia lakukan untuk menenangkan gelora jiwanya, meski jalan sesat sekalipun. Tapi, kekuatan cinta dan ketulusan hati itu benar-benar ada bagi jiwa yang senantiasa bersabar menjalani takdir. Proses kehidupan selalu sesuai siklusnya sendiri. Ada banyak cara untuk mengecap indahnya perjuangan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar