Halaman

Sabtu, 17 November 2012

sekeping pelajaran dari setoples cinta


Apa kabar hati? Masihkah engkau tetap pada ketabahanmu dan merasuki segala rasa?  Apa kabar otak? Masihkah engkau berpikir secara rasional?.
Namaku Pratiwi. Murid kelas dua di eSeMA Gazzeta. Sebenarnya aku tak mau sekolah disana. Tapi,demi menghemat biaya aku terpaksa harus disana. Kakakku juga sekolah disana,yah..setidaknya kalau ada apa-apa,aku punya kakak yang bisa membelaku,hehe.
Senja mulai menguning di cakrawala,awan kembali berarak menaungi kesepianku. Memberikan harapan baru diatas segala asa dan janjiku. Aku tak pernah berharap banyak padanya,tapi ia memberiku kesempatan untuk mencintainya.
Jujur,aku tak pernah menyukainya. Saat berkenalan dengannya melalui halaman muka buku itu,semuanya biasa-biasa saja. Aku bahkan tak pernah memperhatikannya. Tapi,tidak dengannya ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Caranya yang amat sulit untuk ku mengerti. Satu hal yang selalu kuinginkan,yakni kebahagiaan. Bagiku kebahagiaan adalah tujuan hidupku.
Matahari tepat menggelantung diatas sana,cahayanya seakan siap membakar kulitku. Kak Rafy mengikuti pelajaran tambahan,jadi aku harus pulang sendiri. Saat ku duduk di halte sekolah,ada seorang kakek tua yang menghampiriku. Aku tersenyum padanya dan ia juga balas tersenyum padaku. Sebelum ia pergi,aku sempat bertanya padanya tentang cara meraih kebahagiaan. Ia pun tertawa getir,lalu mulai menjawab, “ Ketika kau mampu mencintai seseorang dengan kebaikan,kau akan menemukan kebahagiaan tersendiri saat mencintainya”. Sejak saat itu,aku belajar untuk mencintainya seperti ia mencintaiku dalam kediamannya.
Dia adalah teman sekelasku. Namanya faiz. Ia mencintaiku dengan caranya yang diam,entah mengapa tingkahnya seperti itu. Tapi,aku tetap mencintainya dengan cara yang sama pula. Satu hal yang menjadi penghalang yakni,kak Rafy tidak setuju aku dengannya.
Aku teringat akan buku catatanku yang tertinggal di kelas. Aku pun beranjak ke kelas. Tapi,dari kejauhan aku melihat sosoknya. Dia berada didalam kelas. Aku berlari menghampirinya. Tapi,saat aku sudah berada tepat dihadapannya. Ia justru menampakkan wajahnya yang menyeramkan,membuatku menjerit ketakutan. Matanya membelalak, tangannya mulai mencekik leherku. Aku kesakitan, ”tolong..!”
“Bukankah sudah ku katakan, jangan dekat-dekat dengannya”
“Tapi, kak… aku yakin Dia orang yang baik”
“Apa? Dia orang yang baik? Jika Dia orang yang baik,ia tak mungkin akan mencelakakanmu”
Mentari kembali menghiasi sudut kelasku. Aku melirik jam analog yang tertata indah. Aku tersenyum,lantas bangkit. Berjalan menyusuri jalan setapak. Meski langkahku tertatih,karena insiden semalam. Aku tetap menganggap semuanya tak pernah terjadi. Tapi,sayang… sejak kejadian itu,ia memutuskan untuk pindah sekolah. Faiz.. mengapa kau harus pindah? Aku tak pernah membencimu,meskipun jika saat malam itu kau berhasil membunuhku. Aku takkan marah. Tapi,kau malah menjadi pengecut,menghilang begitu saja. Kau lari dari kenyataan.
Ia mungkin tak mencintaiku,hingga ia memutuskan untuk pergi menjauh dariku. Ah.. kebahagiaan saat seseorang mencintaiku ternyata belum bisa kurasakan. Aku masih harus belajar untuk menjadi lebih baik lagi,hingga seseorang akan mencintaiku dengan ketulusannya. Kini,aku berharap hatiku ikhlas menerima semuanya. Ku biarkan rasa ini hanya bergelantungan dilangit-langit kamarku,tak terjamah oleh siapapun. Selama ini aku terlalu yakin ia mencintaiku dengan diamnya. Perhatiannya padaku ternyata semu. Aku terlalu setia menanti cintanya yang diam. Seperti embun dipagi hari yang selalu setia menunggu pancaran matahari melumatnya habis dan esok pagi,kembali lagi seperti itu melumatnya habis tak tersisa. Kak Rafy ternyata benar.
                                                                     ***                                                                    
Pratiwi.. aku memang mencintaimu dengan caraku sendiri. Maaf,aku pengecut. Andai kelainan ini tidak membahayakan nyawamu aku akan mencintaimu seperti kekasih yang lainnya. Tapi,aku sangat menyayangimu,aku tak ingin tingkahku merenggut nyawamu. Tidak… aku tidak seegois itu. Yang perlu ku lakukan adalah meredam semua perasaanku saat merindukanmu. Percayalah… aku mencintaimu. Kau gadis yang baik bahkan cantik. Ada banyak lelaki yang bisa membahagiakanmu diluar sana. Dia bisa menjagamu. Tenang… aku juga akan menjagamu dari jauh,bagiku melihat keadaanmu baik-baik saja sudah cukup menenangkanku.
Sebulan berlalu,aku mulai sibuk belajar untuk menghadapi ujian-ujian sekolah,aku juga ingin seperti kak Rafy yang cerdas. Atau seperti teman dudukku yang baru.
“Ichsan..”
“Pratiwi..”
Ichsan. Murid pindahan yang aku akui kehebatannya. Cita-citanya adalah menjadi seorang ilmuwan fisika. Dari wajahnya,ia terlihat penuh ketenangan. Saat pelajaran fisika,ia sangat serius mengerjakan semua soal. Ia memberikanku selembar kertas dan sebuah pena. Dia menyuruhku untuk menuliskan angka delapan dan angka nol sebanyak empat kali.
“Delapan puluh ribu,maksudnya?”
“Dalam sehari,manusia berpikir menggunakan kapasitas sebanyak delapan puluh ribu. Sekarang aku ingin meminta izin padamu,maukah kau memberikan sebagian kapasitas itu untuk mengingatku? Layaknya aku yang selalu menghabiskannya untuk memikirkanmu. Aku resah memikirkanmu,sedangkan kau tak pernah memikirkanku”
“Mm.. kau tentu tahu hukum gravitasi bumi,apa yang kita lempar keatas akan jatuh kembali. Maksud kalimat itu adalah,semua yang kita lakukan pasti akan kembali lagi pada diri kita masing-masing. Saat kau memikirkanku,aku juga memikirkanmu,yah.. karena begitulah aturannya,hanya saja semuanya butuh proses. Dan proses itu tak ada yang tahu seperti apa caranya. Semuanya memiliki caranya sendiri. Ini adalah caraku denganmu,cara kita berdua”
Sejak hari itu,aku belajar memahami arti cinta dalam hidupku. Cinta yang lebih dari sekedar diam. Jika ia menanyakan mengapa aku mencintainya,aku mungkin tak bisa menjawabnya karena cinta sangat kuat,dahsyat. Yang terpenting adalah bagaimana cinta itu bekerja bagai laju angin yang membadai dan api yang menyala-nyala. Toh..kita tak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik mentari,kita hanya perlu tahu cara kerjanya.
Namun,perjalanan hidup itu tidaklah mudah,semua kebahagiaan punya harga tersendiri yang harus dibayar sebagai penggantinya. Cobaan bisa datang kapan saja,sesuai takdirnya. Saat itu. . .
“Yang warna merah mudanya saja yah”
“Baiklah,tunggu aku disini”
Aku tetap setia menunggunya,hingga ia turun dari bukit cadas itu. Awalnya aku sudah melarangnya untuk pergi,tapi nalurinya sebagai anak lelaki. Tak bisa kutahan. Hingga ia pergi mengambil apa yang kulihat diatas bukit itu. Menit demi menit berganti,aku mulai cemas.
Kak Rafy datang dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal. Pelan namun pasti kalimat-kalimat dari bibirnya menjelaskan bahwa ia terjatuh saat menaiki bukit itu. Aku tersungkur,dadaku sesak menahannya,telingaku tak kuasa mendengar semua penjelasan itu. Aku berusaha menahan tangis,namun sulit. Terisak dalam tangis penyesalan. Kenapa aku membiarkannya pergi? Andai aku tetap melarangnya,semuannya takkan terjadi. . .
Aku tak percaya,ia meninggalkanku secepat ini. Tuhan.. bantu aku agar mengerti,mampu menerima.. ajari aku untuk percaya.. berikanku kecakapan untuk menerima takdir.. berikanku keikhlasan untuk mencintai dan dicintai,serta berani menatap jauh kedepan untuk kehidupan yang lebih indah dan membahagiakan.
Sungguh,aku merindukannya. Aku tak tahu,keinginanku untuk bahagia harus berakhir seperti ini. Saat aku mulai merasakan bahagianya dicintai,secepat itu pula aku kehilangannya.
“Kak… aku merindukannya”
Kak Rafy tak berkata apa-apa. Ia memelukku erat,aku menangis dalam dekapan tubuhnya.
“Sudahlah..berhenti menangis. Ia pasti sedih melihatmu seperti ini, kau tak mau mengecewakannya,kan?”
Aku hanya mengangguk takzim,lantas menghapus air mataku. Kak Rafy menyuruhku untuk bersiap-siap ke pemakaman. Tanah gembur masih banyak berserakan,baru-baru saja prosesi pemakaman dilaksanakan. Tapi,aku hanya bisa menangis. Menyesali kesalahanku. Aku menahan isak tangis yang sulit ku sembunyikan. Hingga aku melihat seorang kakek tua yang pernah kutemui di halte sekolah. Aku langsung memeluk kakek tua itu,menangis dipelukannya sambil bertanya padanya. Kakek dulu bilang , “ ketika kau mampu mencintai seseorang dengan kebaikan,kau akan menemukan kebahagiaan tersendiri saat mencintainya”. Tapi,kenapa yang aku alami tidak seperti itu,semuanya tak seindah cinta yang selalu kuinginkan. Aku mencintainya,tapi kenapa ia terlalu cepat untuk pergi dari hidupku,ini tak adil.
Sebenarnya kebahagiaan itu seperti apa? Mendapatkan gelar kehormatan, kecantikan, kekayaan, kepintaran,itukah kebahagiaan? Tersenyum,tertawa,itukah bahagia? Menangis,merintih,mengutuk takdir itukah kebahagiaan? Atau bahagia itu bukan apa-apa,hanya untaian kata tak punya makna.
“Sudahlah nak.. kau tak usah bersedih karena merasa kehilangannya. Kau merindukan Ichsan,bukan? Lihatlah.. ia ada dibelakangmu,yah persis dibelakangmu”
Aku menoleh kebelakang,tapi tak ku temukan dirinya. Aku mulai heran dengan semuanya. Kembali ku menoleh. Dan…
Dan aku tetap tak menemukan sosoknya,bayangannya pun tak kutemukan. Aku tak tahu,siapa yang dilihat oleh kakek tua itu sebagai Ichsan. Berkali-kali aku menoleh,hasilnya sama saja. Ichsan sudah tak ada. Ia pergi meninggalkanku,sama dengan Faiz dulu. Mereka berdua sama saja,selalu pergi saat aku berada dalam kasih sayang mereka.
“Kakek.. aku tak menemukannya.. aku ingin melihatnya..”
“Coba lihat dengan hatimu,temukan ia dalam semua kebaikan cintanya padamu”
. . .
Ia datang menghampiriku. Memberikan benda unik berwarna merah muda yang ada diatas bukit cadas itu. Aku menangis dalam pelukannya. Maafkanku.
“Sudahlah jangan menangis lagi.. aku sudah hadir dihadapanmu,benda ini juga sudah ada ditanganmu. Apa lagi yang kau inginkan sayang?”
“Aku ingin kau kembali seperti dulu”
“Maaf sayang,aku tak bisa. Aku hanya bisa menjagamu seperti ini. Ku harap kau bisa menerimanya. Jangan bersedih lagi,kecantikanmu hilang jika kau hanya menangis”
Aku tersenyum padanya. Aku takkan mengecewakannya. Biarlah,aku rela ia menjagaku seperti ini.
. . .
Hidup selalu menawarkan pilihan,tersenyum atau marah,membalas atau memaafkan,mencintai atau membenci,bersyukur atau mengeluh,berharap atau putus asa. Tak ada pilihan tanpa konsekuensi,namun Tuhan selalu memberikan yang terbaik,meski ia harus pergi. Bukankah Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan,bukan apa yang kita inginkan.
Seringkali,aku masih membenci semua takdir seperti ini,tapi ini adalah ujian untukku. Toh,ia selalu menjagaku disana. Disetiap senja ia selalu menemaniku menikmati deburan ombak di laut. Meski aku melihatnya hanya melalui hati dan pikiranku,semuanya bisa buatku bahagia. Ini adalah keinginannya,bagaimana aku memberikan separuh dari delapan puluh ribu pemikiranku untuknya.
Kini,aku selalu menanti senja terindah dalam semua hari-hariku. Karena hanya saat itulah aku bisa bertemu dengannya,menghabiskan waktuku melihat sunset. Disaksikan oleh awan yang berarak indah. Aku yakin ia mendoakanku disana. Aku masih bisa melewatinya dengan senyum. Yah.. tak perlu bahagia untuk bisa tersenyum,karena dengan tersenyum kita akan bahagia.
***
Aku mengenalmu dalam diam. Mencintaimu dengan caraku sendiri. Tak perlu memilikimu saat aku mencintaimu,karena bagiku melihatmu bahagia sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar