Apa kabar hati? Masihkah engkau tetap
pada ketabahanmu dan merasuki segala rasa?
Apa kabar otak? Masihkah engkau berpikir secara rasional?.
Namaku Pratiwi.
Murid kelas dua di eSeMA Gazzeta. Sebenarnya aku tak mau sekolah disana.
Tapi,demi menghemat biaya aku terpaksa harus disana. Kakakku juga sekolah
disana,yah..setidaknya kalau ada apa-apa,aku punya kakak yang bisa
membelaku,hehe.
Senja mulai
menguning di cakrawala,awan kembali berarak menaungi kesepianku. Memberikan
harapan baru diatas segala asa dan janjiku. Aku tak pernah berharap banyak
padanya,tapi ia memberiku kesempatan untuk mencintainya.
Jujur,aku tak
pernah menyukainya. Saat berkenalan dengannya melalui halaman muka buku
itu,semuanya biasa-biasa saja. Aku bahkan tak pernah memperhatikannya.
Tapi,tidak dengannya ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Caranya yang amat
sulit untuk ku mengerti. Satu hal yang selalu kuinginkan,yakni kebahagiaan.
Bagiku kebahagiaan adalah tujuan hidupku.
Matahari tepat
menggelantung diatas sana,cahayanya seakan siap membakar kulitku. Kak Rafy mengikuti
pelajaran tambahan,jadi aku harus pulang sendiri. Saat ku duduk di halte
sekolah,ada seorang kakek tua yang menghampiriku. Aku tersenyum padanya dan ia
juga balas tersenyum padaku. Sebelum ia pergi,aku sempat bertanya padanya
tentang cara meraih kebahagiaan. Ia pun tertawa getir,lalu mulai menjawab, “
Ketika kau mampu mencintai seseorang dengan kebaikan,kau akan menemukan
kebahagiaan tersendiri saat mencintainya”. Sejak saat itu,aku belajar untuk mencintainya
seperti ia mencintaiku dalam kediamannya.
Dia adalah teman sekelasku. Namanya faiz. Ia mencintaiku dengan
caranya yang diam,entah mengapa tingkahnya seperti itu. Tapi,aku tetap
mencintainya dengan cara yang sama pula. Satu hal yang menjadi penghalang yakni,kak
Rafy tidak setuju aku dengannya.
Aku teringat
akan buku catatanku yang tertinggal di kelas. Aku pun beranjak ke kelas.
Tapi,dari kejauhan aku melihat sosoknya. Dia berada didalam kelas. Aku berlari
menghampirinya. Tapi,saat aku sudah berada tepat dihadapannya. Ia justru
menampakkan wajahnya yang menyeramkan,membuatku menjerit ketakutan. Matanya
membelalak, tangannya mulai mencekik leherku. Aku kesakitan, ”tolong..!”
“Bukankah sudah ku katakan, jangan dekat-dekat dengannya”
“Tapi, kak… aku yakin Dia orang yang baik”
“Apa? Dia orang yang baik? Jika Dia orang yang baik,ia tak mungkin
akan mencelakakanmu”
Mentari kembali
menghiasi sudut kelasku. Aku melirik jam analog yang tertata indah. Aku
tersenyum,lantas bangkit. Berjalan menyusuri jalan setapak. Meski langkahku
tertatih,karena insiden semalam. Aku tetap menganggap semuanya tak pernah
terjadi. Tapi,sayang… sejak kejadian itu,ia memutuskan untuk pindah sekolah. Faiz.. mengapa kau harus pindah? Aku tak
pernah membencimu,meskipun jika saat malam itu kau berhasil membunuhku. Aku
takkan marah. Tapi,kau malah menjadi pengecut,menghilang begitu saja. Kau lari
dari kenyataan.
Ia mungkin tak
mencintaiku,hingga ia memutuskan untuk pergi menjauh dariku. Ah.. kebahagiaan
saat seseorang mencintaiku ternyata belum bisa kurasakan. Aku masih harus
belajar untuk menjadi lebih baik lagi,hingga seseorang akan mencintaiku dengan
ketulusannya. Kini,aku berharap hatiku ikhlas menerima semuanya. Ku biarkan
rasa ini hanya bergelantungan dilangit-langit kamarku,tak terjamah oleh
siapapun. Selama ini aku terlalu yakin ia mencintaiku dengan diamnya.
Perhatiannya padaku ternyata semu. Aku terlalu setia menanti cintanya yang
diam. Seperti embun dipagi hari yang selalu setia menunggu pancaran matahari
melumatnya habis dan esok pagi,kembali lagi seperti itu melumatnya habis tak
tersisa. Kak Rafy ternyata benar.
***
Pratiwi.. aku
memang mencintaimu dengan caraku sendiri. Maaf,aku pengecut. Andai kelainan ini
tidak membahayakan nyawamu aku akan mencintaimu seperti kekasih yang lainnya.
Tapi,aku sangat menyayangimu,aku tak ingin tingkahku merenggut nyawamu. Tidak…
aku tidak seegois itu. Yang perlu ku lakukan adalah meredam semua perasaanku
saat merindukanmu. Percayalah… aku mencintaimu. Kau gadis yang baik bahkan
cantik. Ada banyak lelaki yang bisa membahagiakanmu diluar sana. Dia bisa
menjagamu. Tenang… aku juga akan menjagamu dari jauh,bagiku melihat keadaanmu
baik-baik saja sudah cukup menenangkanku.
Sebulan
berlalu,aku mulai sibuk belajar untuk menghadapi ujian-ujian sekolah,aku juga
ingin seperti kak Rafy yang cerdas. Atau seperti teman dudukku yang baru.
“Ichsan..”
“Pratiwi..”
Ichsan. Murid
pindahan yang aku akui kehebatannya. Cita-citanya adalah menjadi seorang
ilmuwan fisika. Dari wajahnya,ia terlihat penuh ketenangan. Saat pelajaran
fisika,ia sangat serius mengerjakan semua soal. Ia memberikanku selembar kertas
dan sebuah pena. Dia menyuruhku untuk menuliskan angka delapan dan angka nol
sebanyak empat kali.
“Delapan puluh ribu,maksudnya?”
“Dalam sehari,manusia berpikir menggunakan kapasitas sebanyak
delapan puluh ribu. Sekarang aku ingin meminta izin padamu,maukah kau
memberikan sebagian kapasitas itu untuk mengingatku? Layaknya aku yang selalu
menghabiskannya untuk memikirkanmu. Aku resah memikirkanmu,sedangkan kau tak
pernah memikirkanku”
“Mm.. kau tentu tahu hukum gravitasi bumi,apa yang kita lempar
keatas akan jatuh kembali. Maksud kalimat itu adalah,semua yang kita lakukan
pasti akan kembali lagi pada diri kita masing-masing. Saat kau memikirkanku,aku
juga memikirkanmu,yah.. karena begitulah aturannya,hanya saja semuanya butuh
proses. Dan proses itu tak ada yang tahu seperti apa caranya. Semuanya memiliki
caranya sendiri. Ini adalah caraku denganmu,cara kita berdua”
Sejak hari
itu,aku belajar memahami arti cinta dalam hidupku. Cinta yang lebih dari
sekedar diam. Jika ia menanyakan mengapa aku mencintainya,aku mungkin tak bisa
menjawabnya karena cinta sangat kuat,dahsyat. Yang terpenting adalah bagaimana
cinta itu bekerja bagai laju angin yang membadai dan api yang menyala-nyala.
Toh..kita tak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik mentari,kita hanya
perlu tahu cara kerjanya.
Namun,perjalanan
hidup itu tidaklah mudah,semua kebahagiaan punya harga tersendiri yang harus
dibayar sebagai penggantinya. Cobaan bisa datang kapan saja,sesuai takdirnya.
Saat itu. . .
“Yang warna merah mudanya saja yah”
“Baiklah,tunggu aku disini”
Aku tetap setia
menunggunya,hingga ia turun dari bukit cadas itu. Awalnya aku sudah melarangnya
untuk pergi,tapi nalurinya sebagai anak lelaki. Tak bisa kutahan. Hingga ia
pergi mengambil apa yang kulihat diatas bukit itu. Menit demi menit
berganti,aku mulai cemas.
Kak Rafy datang
dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal. Pelan namun pasti kalimat-kalimat
dari bibirnya menjelaskan bahwa ia terjatuh saat menaiki bukit itu. Aku
tersungkur,dadaku sesak menahannya,telingaku tak kuasa mendengar semua
penjelasan itu. Aku berusaha menahan tangis,namun sulit. Terisak dalam tangis
penyesalan. Kenapa aku membiarkannya pergi? Andai aku tetap melarangnya,semuannya
takkan terjadi. . .
Aku tak
percaya,ia meninggalkanku secepat ini.
Tuhan.. bantu aku agar mengerti,mampu menerima.. ajari aku untuk percaya..
berikanku kecakapan untuk menerima takdir.. berikanku keikhlasan untuk
mencintai dan dicintai,serta berani menatap jauh kedepan untuk kehidupan yang
lebih indah dan membahagiakan.
Sungguh,aku
merindukannya. Aku tak tahu,keinginanku untuk bahagia harus berakhir seperti
ini. Saat aku mulai merasakan bahagianya dicintai,secepat itu pula aku
kehilangannya.
“Kak… aku merindukannya”
Kak Rafy tak berkata apa-apa. Ia memelukku erat,aku menangis dalam
dekapan tubuhnya.
“Sudahlah..berhenti menangis. Ia pasti sedih melihatmu seperti ini,
kau tak mau mengecewakannya,kan?”
Aku hanya
mengangguk takzim,lantas menghapus air mataku. Kak Rafy menyuruhku untuk
bersiap-siap ke pemakaman. Tanah gembur masih banyak berserakan,baru-baru saja
prosesi pemakaman dilaksanakan. Tapi,aku hanya bisa menangis. Menyesali
kesalahanku. Aku menahan isak tangis yang sulit ku sembunyikan. Hingga aku
melihat seorang kakek tua yang pernah kutemui di halte sekolah. Aku langsung
memeluk kakek tua itu,menangis dipelukannya sambil bertanya padanya. Kakek dulu
bilang , “ ketika kau mampu mencintai seseorang dengan kebaikan,kau akan
menemukan kebahagiaan tersendiri saat mencintainya”. Tapi,kenapa yang aku alami
tidak seperti itu,semuanya tak seindah cinta yang selalu kuinginkan. Aku
mencintainya,tapi kenapa ia terlalu cepat untuk pergi dari hidupku,ini tak
adil.
Sebenarnya kebahagiaan itu seperti apa? Mendapatkan gelar
kehormatan, kecantikan, kekayaan, kepintaran,itukah kebahagiaan?
Tersenyum,tertawa,itukah bahagia? Menangis,merintih,mengutuk takdir itukah
kebahagiaan? Atau bahagia itu bukan apa-apa,hanya untaian kata tak punya makna.
“Sudahlah nak.. kau tak usah bersedih karena merasa kehilangannya.
Kau merindukan Ichsan,bukan? Lihatlah.. ia ada dibelakangmu,yah persis
dibelakangmu”
Aku menoleh
kebelakang,tapi tak ku temukan dirinya. Aku mulai heran dengan semuanya.
Kembali ku menoleh. Dan…
Dan aku tetap
tak menemukan sosoknya,bayangannya pun tak kutemukan. Aku tak tahu,siapa yang
dilihat oleh kakek tua itu sebagai Ichsan. Berkali-kali aku menoleh,hasilnya
sama saja. Ichsan sudah tak ada. Ia pergi meninggalkanku,sama dengan Faiz dulu.
Mereka berdua sama saja,selalu pergi saat aku berada dalam kasih sayang mereka.
“Kakek.. aku tak menemukannya.. aku ingin melihatnya..”
“Coba lihat dengan hatimu,temukan ia dalam semua kebaikan cintanya
padamu”
. . .
Ia datang
menghampiriku. Memberikan benda unik berwarna merah muda yang ada diatas bukit
cadas itu. Aku menangis dalam pelukannya. Maafkanku.
“Sudahlah jangan menangis lagi.. aku sudah hadir dihadapanmu,benda
ini juga sudah ada ditanganmu. Apa lagi yang kau inginkan sayang?”
“Aku ingin kau kembali seperti dulu”
“Maaf sayang,aku tak bisa. Aku hanya bisa menjagamu seperti ini. Ku
harap kau bisa menerimanya. Jangan bersedih lagi,kecantikanmu hilang jika kau
hanya menangis”
Aku tersenyum padanya. Aku takkan mengecewakannya. Biarlah,aku rela
ia menjagaku seperti ini.
. . .
Hidup selalu
menawarkan pilihan,tersenyum atau marah,membalas atau memaafkan,mencintai atau
membenci,bersyukur atau mengeluh,berharap atau putus asa. Tak ada pilihan tanpa
konsekuensi,namun Tuhan selalu memberikan yang terbaik,meski ia harus pergi.
Bukankah Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan,bukan apa yang kita
inginkan.
Seringkali,aku
masih membenci semua takdir seperti ini,tapi ini adalah ujian untukku. Toh,ia
selalu menjagaku disana. Disetiap
senja ia selalu menemaniku menikmati deburan ombak di laut. Meski aku
melihatnya hanya melalui hati dan pikiranku,semuanya bisa buatku bahagia. Ini
adalah keinginannya,bagaimana aku memberikan separuh dari delapan puluh ribu
pemikiranku untuknya.
Kini,aku selalu
menanti senja terindah dalam semua hari-hariku. Karena hanya saat itulah aku
bisa bertemu dengannya,menghabiskan waktuku melihat sunset. Disaksikan oleh awan yang berarak indah. Aku yakin ia
mendoakanku disana. Aku masih bisa
melewatinya dengan senyum. Yah.. tak perlu bahagia untuk bisa tersenyum,karena
dengan tersenyum kita akan bahagia.
***
Aku mengenalmu
dalam diam. Mencintaimu dengan caraku sendiri. Tak perlu memilikimu saat aku
mencintaimu,karena bagiku melihatmu bahagia sudah cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar