Halaman

Kamis, 22 November 2012

satanisme cinta


Satanisme cinta

Dan ketika ia mulai terjatuh dalam rasa sakit yang menggelora jiwanya, rasa sakit yang tak pernah ia inginkan sama sekali. Saat itu juga seseorang datang merangkulnya, ia tak peduli rangkulan yang ia terima benar atau tidak. Tak peduli dengan jiwanya yang harus ia jual. Baginya meredam rasa sakit itu sudah cukup, tak perlu berlebihan.
***
Nayla Qurrata A’yun. Seorang gadis kelulusan eSeMP yang biasa-biasa saja. Meskipun hasil ujian nasionalnya adalah yang tertinggi di sekolahnya, tetap saja itu tak ada artinya karena sekolahnya bukan sekolah favorit atau sekolah bertaraf internasional. Sekolahnya hanya sekolah rintisan yang tak terjamah oleh media untuk diliput sebagai sekolah percontohan. Tapi, untuk mendapatkan nilai setinggi itu, usahanya bukan hanya sekedar datang pagi-pagi lalu menerima pelajaran, mengerjakan tugas di papan tulis, mengerjakan ujian dengan tepat, lantas pulang ketika mentari  mulai bergelantungan menerangi lapangan sekolah. Tidak.. ia belajar dari orang sekitarnya, memahami apa yang ia sebut sebagai sebuah kehidupan. Kehidupan dalam sebuah pesantren.
Orang tuanya telah lama meninggal, ia kini tinggal di lingkungan pesantren. Meski bukan berstatus santri ia belajar banyak hal tentang hidup. Hidup di dunia untuk hidup di akhirat.
Nayla bertugas sebagai  petugas kebersihan. Setelah ia melaksanakan shalat subuh, ia akan bergegas untuk membersihkan halaman. Saat ia membersihkan, ia pernah mendengar seorang santri  membacakan sebuah kalimat motivasi, “ Dan jagalah hatimu dari penyakit-penyakitnya, sulit mengembangkan hati yang sudah jauh dari kebenaran. Sesungguhnya hati jika sudah kotor, membersihkannya bak mengumpulkan kaca yang pecah berserakan ”.
Sebenarnya, Nayla ingin melanjutkan sekolahnya di pesantren itu, tapi biaya yang ia miliki tak memadai. Hidupnya serba terbatas. Hingga Nayla terpaksa melanjutkan sekolahnya di eSeMA yang juga serba terbatas. Hanya segelintir guru yang mau datang mengajar, yang berjiwa besar seperti Umar Bakri.
Nayla akrab dengan seorang lulusan santri yang bernama Dzikrul. Saat itu. . .
“ What is your name? I always meet you in here, but I never know about your self. Can you tell me?”
Nayla yang disapa oleh Dzikrul tersenyum. Itu adalah percakapan pertama mereka.
“My name is Nayla”
Percakapan mereka terus berlanjut, bahkan sepulang sekolah Dzikrul mengajarkan beberapa pelajaran agama untuk Nayla. Pihak sekolah tak pernah melarang ketika mereka berdua saling mengajar satu sama lain, karena Dzikrul adalah seorang lulusan terbaik tahun lalu, ia mendapatkan kesempatan untuk mengabdi selama setahun. Dan Nayla dikenal sebagai petugas kebersihan yang baik. Jadi, ketika Dzikrul mengajar Nayla pihak sekolah bahkan turut bangga atas kerelaan Dzikrul untuk meluangkan waktunya bagi Nayla. . .
Setahun berlalu.
Masa pengabdian Dzikrul telah berakhir. Nayla bahkan terlihat lebih dewasa, meski usianya baru enam belas tahun. Keakraban mereka terus terjalin.
Dzikrul mulai menyadari kedekatannya dengan Nayla ternyata mampu menimbulkan perasaan yang selama ini ia hindari. Wajar saja, Dzikrul adalah seorang penghafal qur’an. Enam tahun di pesantren telah mampu membentuk karakternya menjadi pribadi qur’ani yang penuh dengan pemahaman hidup. Ia berusaha menghilangkan gejolak-gejolak perasaan itu. Bahkan, ia menghindar untuk bertemu dengan Nayla.
Berhari-hari Nayla mencari Dzikrul. Ia juga sadar bahwa perasaan suka itu mulai hadir dalam hidupnya. Hingga saat ia melihat Dzikrul di taman dekat sekolahnya yang dulu. Nayla benar-benar merasa kehilangan. Ia berlari mendekat lantas memeluknya.
Dzikrul tercengang. Ia tak tahu mengapa Nayla langsung memeluknya dari belakang. Batinnya terguncang, ia tahu ini adalah perbuatan yang sama sekali tak boleh ia lakukan. Tapi, mengapa ia tak menghindar saat dekapan Nayla mulai menghangatkan tubuhnya . Ia menikmati semuanya.
“Mengapa kau tak menemuiku selama beberapa hari ini?”
“Maaf.. ku pikir, perasaan ini harus ku hentikan. Semuanya belum halal”
“Tapi.. kau mencintaiku bukan?”
“Ia,aku mencintaimu.. tapi..”
“Ayolah.. jangan kau bohongi perasaanmu”
Saat itu, ajaran yang diterimanya selama bertahun-tahun hilang, entah kemana. Hafalan qur’annya yang selama ini menjadi penerang hidupnya seketika luntur oleh nafsu bejat. Kenangan lamanya tentang keluarganya mulai terputar seperti kaset rusak yang terputar acak, tak jelas. Perlahan namun pasti ia melupakan dunianya. Ia dikuasai oleh nafsu-nafsu syahwat. Begitu halnya dengan Nayla. Ia yang pada dasarnya tak punya pemahaman agama yang cukup, juga terjerat dalam serangan maut hawa nafsu. Malam itu, ia melakukannya. Melakukan perbuatan yang sama sekali tak seimbang dengan statusnya sebagai seorang hafidz. Kenangan keluarganya ternyata mampu meruntuhkan imannya.
Meski pada malam itu, Dzikrul melakukan perbuatan terlarang dengan Nayla. Ia tetap menjadi pribadi yang terlihat tenang menjalani hidupnya. Ia masih dikenal sebagai seorang hafidz dan lulusan santri terbaik. Tak ada yang menyangka bahwa ia telah kalah melawan nafsunya, ia tak ada bedanya dengan berandalan yang biasa magang dimalam hari mencari mangsa untuk memuaskan nafsunya.
Nayla yang sudah terjerat dalam nafsu syahwat mencoba menikmati semuanya. Baginya hidupnya hanya untuk Dzikrul seorang. Ia juga lupa akan kalimat motivasi yang pernah ia dengar. Menjalani hidup dengan cinta seperti itu baginya adalah keindahan.
***
Semburat jingga kembali menyapa ranah kehidupan. Kicau burung juga mulai bersua, mensyukuri hidup dengan caranya sendiri. Hidup memang indah, maka tak salah jika Nayla menjalaninya dengan pandangan dan kemauannya sendiri.
Sebulan kembali berlalu, seperti kejadian yang lalu. Dzikrul kembali menghilang tiba-tiba. Nayla berusaha mencarinya. Mencarinya di taman dekat sekolah tapi, hasilnya nihil. Ia tak ada disana. Semalaman Nayla terus mencarinya.

***
“Paman William Greedy ada di dalam?”
“Kamu siapa?”
“Aku keluarganya”
Setelah beberapa menit menunggu Paman William  datang. Ia menyambut ramah seorang pemuda yang hadir dihadapannya. Ia memeluknya seperti seorang ayah yang baru bertemu dengan anaknya setelah terpisah sekian tahun lamanya. Pemuda itu tersenyum.
***
Sementara Nayla terus mencari kekasihnya. Seseorang yang telah menikmati keindahan tubuhnya hanya karena kedekatan mereka yang tak pernah mereka rencanakan sama sekali. Nayla bingung harus mencarinya dimana, ia tak tahu tentang keluarga kekasihnya. Ia terlalu percaya bahwa seseorang ahli agama itu bisa dipercaya. Dan akhirnya ia harus menyesal telah melakukan semuanya. Beruntung ia tak sampai harus mengandung. Saat itu, Nayla memang belum mengalami hal seperti wanita pada umumnya. Ia seharusnya bersyukur.
Meski Nayla bisa menerima kenyataan bahwa ia ditinggal pergi begitu saja oleh kekasihnya, tapi ia berubah menjadi garis pemurung. Raut kecantikan wajahnya luntur begitu saja, ia bahkan jarang tersenyum. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja. Tapi, seseorang datang merangkulnya dari keterpurukan. Ia datang bagai malaikat dalam hidupnya, dan Nayla begitu percaya dengannya. Nayla hanya tahu bahwa pemuda itu bagai malaikat, ia tak tahu bahwa jin bisa saja berpura-pura menjadi malaikat baik untuk menggencarkan misi jahatnya.
Dialah Gerard Greedy.
***
Nayla menjalani kehidupan barunya bersama Gerard. Meski Gerard adalah seorang penganut satanisme, ia tetap berteman dengannya. Tak pernah membeda-bedakan. Gerard adalah seorang pemuda berumur sembilan belas tahun, ia memang lebih tua jika dibandingkan dengan Nayla. Tapi, Nayla menganggap semua perbedaan itu sebagai bagian dari kebersamaan. Toh.. Nayla juga sudah melupakan keinginan-keinginannya untuk mendalami agama lebih dalam lagi. Tubuhnya telah ternodai, ia tak pantas menempah ilmu dalam lingkungan itu. Lagi pula seorang lulusan terbaik bahkan penghafal qur’an pula yang  telah merenggut kebahagiaannya. Jadi, untuk apa bercita-cita meraih kesuksesan berlatar agama seperti itu. Semuanya munafik. Meski jauh dilubuk hati Nayla.. ia merindukan ketenangan jiwa yang hakiki. Ia rindu merasakan sejuknya air wudhu yang membalut tubuh, ia rindu mendengar lantunan qur’an dibacakan begitu merdu. Ia rindu semuanya, namun sayang.. kekecewaan membuatnya mengabaikan serpihan-serpihan hidupnya yang lalu.
Gerard selalu menemani Nayla. Menemaninya melihat bintang gemintang di langit. Mereka membentuk formasi-formasi indah. Tiba-tiba Nayla menangis. Ia tertunduk, menatap kosong. Air matanya bagai bulir-bulir air memberikan guratan kepedihan diwajahnya. Gerard yang melihatnya, memeluk iba. Ia biarkan Nayla dalam dekapannya. Nayla merindukan orang tuanya. . .
Nayla kecil bergaya didepan cermin. Mengikat rambutnya dengan pita cantik berwarna merah muda. Ibunya mencium keningnya lembut. Nayla kecil protes.
Ibu.. tas Nayla kebesaran..!”
Ibunya hanya bisa mengusap dada. Ia memang tak bisa memberikan tas baru untuk Nayla. Tas itu hanya pemberian dari seorang santri. . .
Nayla yang masih dalam pelukan Gerard merasa mendapatkan kasih sayang yang selama ini tak ia dapatkan. Gerard datang dalam kehidupannya menemani kekecewaannya pada takdir yang ia terima. Kini, raut wajah Nayla mulai merekahkan senyum. Lesung pipinya indah. Pancaran jiwanya mulai terlihat seperti dulu lagi.
***
Dzikrul kembali mendatangi Paman William. Paman William adalah seorang keturunan penganut paham satanisme. Meski keluarganya termasuk dalam aliran sesat seperti itu, Dzikrul tak pernah membenci keluarganya. Dikeluarganya ialah satu-satunya yang masuk dalam agama islam, itu karena saat kecil ia bergaul dengan sesama muslim. Beruntung ia diizinkan untuk mengenyam pendidikan di pesantren. Dzikrul memiliki kakak, namanya Gerard Greedy. Dengan berbagai macam usaha Dzikrul selalu mengajak pamannya dan kakaknya untuk memeluk agama islam,tapi ia belum berhasil.
***
Nayla kini mulai membuka hati untuk Gerard, namun ia ragu akan cintanya karena Gerard tak sepaham dengannya mengenai agama. Gerard yang mulai melihat tingkah Nayla yang berubah, justru tersenyum sumringah. Akhirnya ia mulai terpengaruh juga.
Gerard Greedy adalah seorang ahli satanisme. Aliran penyembah setan dan menjadikannya sebagai Tuhan. Gerakan sesat ini memiliki ajaran melaksanakan hal-hal yang oleh agama dianggap berdosa. Satanisme menjadikan setan sebagai lambang kejahatan sebagai pemimpin dan pembimbing. Ia adalah orang yang berperan penting dalam menyebarluaskan alirannya.
Nayla yang telah menganggap Gerard sebagai penyelamatnya yang membantunya keluar dari keterpurukannya saat ditinggal oleh Dzikrul dengan senang hati menerima tawaran Gerard untuk masuk dalam alirannya. Meski Nayla tak sampai mengganti namanya seperti Gerard. Tapi, tingkahnya tak jauh bedanya dengan penganut aliran itu. Ia mulai gencar melaksanakan misi-misi alirannya.  Ia bahkan tampak lebih handal.
Ayolah paman.. dengarkan penjelasanku.. bagaimana mungkin paman bisa menyembah setan sebagai Tuhan..”
Itu memang tujuan hidupku. Aku adalah bagian dari aliran ini”
Sudahlah.. kau hidupi saja hidupmu, seharusnya kau bersyukur paman mengizinkanmu sekolah di pesantren itu. Tidak seperti kakakmu”
Dzikrul kecewa, paman yang paling ia sayangi hingga saat ini belum bisa menganut agama seperti yang ia yakini. Padahal ia rela meninggalkan Nayla sendiri hanya untuk pamannya. Ia mengorbankan cinta pertamanya demi keluarganya, ia rela Nayla menganggapnya sebagai lelaki tak bertanggung jawab.
***
Diantara sekelumit masalah ini, Gerard yang akan sangat bahagia. Ia mampu mengajak Nayla untuk bergabung dalam melaksanakan misinya. Dan itu adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi alirannya.Dengan lihai Nayla semakin terjerat dalam misi Gerard. Ia benar-benar telah menjual jiwanya demi dunia yang bisa ia genggam.
Hingga saat Dzikrul melihat Nayla dan Gerard jalan bersama. Ia mulai curiga, ia bahkan takut jikalau Nayla telah menjual jiwanya pada setan-setan itu. Dzikrul mengikuti mereka berdua.
Paman.. kemarin aku melihat kakak dengan seorang gadis. Ia siapa?”
Itu kekasih kakakmu, ia baru saja berhasil menjadikan gadis itu menjual jiwanya”
Jiwanya tersontak kaget. Ia tak pernah menyangka gadis yang menjadi cinta pertamanya justru telah menjual jiwanya pada setan. Sungguh, hal yang tak pernah terlintas dibenaknya. Dzikrul segera mencari alamat baru Nayla tapi, ia tak menemukannya.
Ia kembali menemui Paman William di rumahnya, tapi saat ia tiba pamannya tak membuka pintu. Karena merasa terdesak Dzikrul masuk ke dalam rumah. Ia mencari pamannya di kamar. Dan... saat itu ia kembali dikejutkan oleh suatu hal. Pamannya sedang shalat.
Entah, perasaan seperti apa yang berkecamuk dalam jiwanya. Rasa haru yang tak terkirakan. Dzikrul duduk, menunggu pamannya selesai shalat. hingga pamannya selesai shalat, ia langsung memeluk pamannya. Sungguh.. hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Dimalam itu, Paman William mulai berterus terang pada Dzikrul. Sebenarnya Paman William telah masuk islam saat Dzikrul lahir. Itulah sebabnya dia mengizinkannya belajar dalam sebuah pondok, agar ia bisa mengerti betul tentang agama. Tidak seperti kakaknya yang justru menjadi pelopor aliran-aliran itu.
Dengan kemantapan hati, Dzikrul datang mengunjungi Nayla bersama kakaknya. Gerard heran melihat Dzikrul yang datang mendadak di rumahnya. Nayla bahkan lebih terkejut, ia tak menyangka akan bertemu dengan Dzikrul setelah lama tak bertemu dengannya.
Gerard Greedy dan Dzikrul Abrar Masajid. Keduanya bersaudara. Hanya saja perbedaan agama menjadikan mereka terpisah. Paman William Greedy yang merawat mereka memang memberikan pilihan yang berbeda untuk keduanya. Dzikrul pada agamanya, dan Gerard dengan aliran satanismenya. Meski Dzikrul telah mengetahui bahwa pamannya juga seagama dengannya, Gerard tak pernah tahu akan hal itu. Paman William masih merahasiakan agamanya karena, ia adalah pimpinan dari aliran satanisme. Bagaimana mungkin ia akan terang- terangan mengumumkan agama barunya. Semua anggotanya telah menjual jiwanya pada setan. Semuanya telah menjadi pemuja setan. Itulah, ia ingin Dzikrul menjadi penyelamat bagi semua anggota-anggota pemuja setan itu.
Dzikrul mendekati Nayla. Ia berusaha mengembalikan jiwanya. Tapi, hasilnya sama saja. Nayla semakin menjadi-jadi dengan alirannya ia bahkan berpura-pura mendekati Dzikrul agar ia bisa menjual jiwanya pada setan. Sama sepertinya.
Gerard memberikan banyak paham-paham yang baru pada Nayla, agar ia bisa membuat Dzikrul juga ikut dalam alirannya. Nayla kembali menjalin hubungannya dengan Dzikrul. Sedangkan Dzikrul berharap dengan kedekatannya ini, ia bisa mengembalikan jiwa Nayla yang sebenarnya.
Sepekan berlalu. Nayla memang mulai berubah. Ia hampir kembali seperti Nayla yang dulu. Dzikrul bahkan mengajaknya untuk menikah dan ia telah meminta maaf karena telah meninggalkannya dulu. Nayla memaafkan Dzikrul begitu saja.
Mereka berdua bahkan sering mendatangi Paman William, mengajaknya bercerita tentang pandangan agama islam yang baru ia pahami. Mereka seakan-akan menemukan filosofi hidup yang sebenarnya. Dzikrul bahkan benar-benar serius mengajak Nayla untuk menikah.
Karena Nayla tak memiliki seorang wali, maka hakimlah yang menyaksikan pernikahan mereka. Acaranya berlangsung sederhana. Hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dekat dan Paman William. Paman William bahkan harus bersembunyi untuk menghadiri acara pernikahan mereka, karena ia masih berstatus sebagai pemimpin aliran satanisme.
“Kau ternyata berhasil membuatnya berada dalam genggamanmu”
“Lihat saja, apa yang akan aku lakukan padanya”
Gerard semakin merasa dalam lingkaran setan dengan kejayaan penuh, ia berhasil membuat keduanya terjerat dalam misinya. Gerard tak peduli, meski Dzikrul adalah saudaranya.. toh, agama mereka berbeda untuk apa berbelas kasih padanya.
***
Ketika rembulan samar-samar memberikan pancaran sinarnya. Saat itu, Nayla sudah bersama Dzikrul. Malam itu memang menjadi milik mereka berdua. Tak ada lagi batasan haram antara mereka berdua tapi, kali ini semuanya berbeda. Nayla telah menjual jiwanya pada setan. Ia perlahan-lahan mengambil sebilah pisau lalu menancapkan pada jantung Dzikrul. Dzikrul memohon pertolongan pada Nayla, tapi jiwa setan yang ada pada tubuhnya melupakan apa arti ketulusan yang sebenarnya. Ia lupa akan pentingnya hati suci. Hatinya kini bagaikan pecahan kaca yang berserakan. Sulit mengumpulkannya.
Tapi, tidak dengan Dzikrul. Meski, kekuatan hafalannya pernah hilang termakan oleh nafsu syahwat setan hingga membuatnya melakukan perbuatan bejat. Saat itu pertolongan penguasa langit menghampirinya. Ia dipenuhi oleh kekuatan untuk melawan takdir buruk yang sengaja dirancang oleh nayla. Dzikrul memang punya malaikat sendiri yang selalu mengawasinya. Malaikatnya tentu saja tak tega melihat seorang penghafidz itu jatuh kedalam kenistaan yang lebih jauh lagi. Dzikrul bangkit, Nayla yang baru saja tertawa puas telah berhasil menyelesaikan misinya terperanjat kaget. Ia tak menyangka Dzikrul tetap terlihat baik-baik saja. Tak ada lumuran darah dari tubuhnya.
Dzikrul bukanlah seorang pendendam. Ia tetap memaafkan niat buruk Nayla, ia yakin itu bukan Naylanya.. itu adalah jiwa setan yang bersemayam dalam tubuhnya. Dzikrul membawa Nayla pergi ke suatu desa. Desa yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk dunia metropolitan. Disana ia mencoba mengembalikan jiwa Nayla yang sebenarnya. Berhari-hari Dzikrul berkutat dihadapan layar monitor, mencoba menggabungkan sistem syaraf Nayla ke dalam monitor dihadapannya. Lewat layar itu ia bisa melihat bagaimana sistem syaraf Nayla terkontrol dengan cara yang berbeda dari manusia pada umumnya. Sistem syaraf otonomnya telah terkontrol oleh setan. Dzikrul berusaha mencari cara agar syarafnya bisa berjalan seperti biasanya. Ia pun mengontrol Nayla mulai dari bangun tidurnya yang harus sesuai dengan siklus yang tertera dimonitor.
Sebulan berlalu, usaha Dzikrul tak sia-sia. Berkat usahanya yang tak pernah jenuh, ia bisa mengembalikan jiwa Nayla. Setiap sepertiga malam ia habiskan waktunya untuk bertemu dengan sang pemilik semesta. Ia mengadukan semua keluh kesahnya, ia berharap agar Nayla bisa seperti dulu lagi. Dan yah.. takdir memang selalu memberikan jawabannya sendiri, tanpa pernah kita tahu akhirnya. Nayla benar-benar telah kembali menjadi Naylanya, bukan jiwa setan yang terpendam licik.
Gerard Greedy yang saat itu berada diatas puncak kejayaannya, kini harus menanggung kenyataan takdir yang ia alami. Misinya dalam menyebarluaskan aliran satanismenya memang terhenti pada saudaranya. Tapi, kelicikannya tak pernah hilang. Ia bahkan rela menunggu saudaranya bertahun-tahun untuk memiliki momongan dan ia akan mengalirkan ajarannya pada anak saudaranya kelak. Lihat saja nanti.
***
Rasa sakit memang bisa menjadikan seseorang berubah, bahkan ada banyak cara yang akan ia lakukan untuk menenangkan gelora jiwanya, meski jalan sesat sekalipun. Tapi, kekuatan cinta dan ketulusan hati itu benar-benar ada bagi jiwa yang senantiasa bersabar menjalani takdir. Proses kehidupan selalu sesuai siklusnya sendiri. Ada banyak cara untuk mengecap indahnya perjuangan hidup.

cassandra procyon


Cassandra procyon

 

Kevin bukanlah seorang psikopat. Keluarganya  -- keluarga Maddyor memang mengidap penyakit kejiwaan tersebut. Namun, bukan berarti ia juga mengidap psikopat.

Dari kesehariannya, ia normal seperti anak-anak yang lain –yang menikmati masa mudanya dengan belajar. Penampilannya yang rapi, dengan celana naik setengah perut dan dililit ikat pinggang ketat menghilangkan kesan bahwa ia berasal dari keluarga pengidap psikopat. Ia pun sopan terhadap temannya dan orang yang lebih tua.

Suatu ketika, aib keluarganya menjadi buah bibir diantara teman-temannya. Semuanya berbalik membenci Kevin. Setiap ia masuk kelas, ia selalu menjadi bahan bully-ing di antara teman-temannya. Bahkan tak heran, ia biasa pulang dengan luka memar ditubuhnya.

“Hai bocah psikopat..!!”. begitulah Joe, teman kelasnya menyapanya.

Kevin hanya terdiam. Sikapnya yang memang pendiam membuatnya selalu menghiraukan ejekan temannya itu.

Kevin punya sahabat. Namanya Ivone. Meski teman sekelasnya banyak yang membenci Kevin, namun tidak demikian dengan Ivone. Menurut Ivone, Kevin adalah tipikal orang yang asik diajak bercanda jika kita sudah akrab dengannya. Namun sayangnya, Kevin adalah orang yang introvert sehingga ia lebih memilih untuk tertutup bagi orang lain dan terbuka hanya pada beberapa orang saja.

Kevin hanya akrab pada dua orang saja,yakni Ivone dan Cassandra Procyon. Cassandra Procyon adalah kekasihnya. Cassandra gadis yang cerdas dan sangat cantik. Kulitnya putih bersih seperti ibunya. Mata sipitnya semakin mempertegas kecantikannya.

Diusianya yang kedelapan belas tahun, Kevin memutuskan untuk melepaskan diri dari status keluarga psikopat. Ada banyak rintangan yang ia hadapi selama melakukan pengembaraannya. Bahkan, tekanan dari keluarganya sedikit berhasil mematahkan ambisinya untuk mengubah hidupnya. Semua itu ia lakukan untuk mencari sudut pandang yang baru, dunia tanpa rasa saling menyakiti dan hasrat ingin membunuh.

Sejak Kevin masuk sekolah. Ia selalu menduduki peringkat pertama, ia bahkan pandai dalam meneliti suatu kasus. Kekasihnya, Cassandra selalu menjadi penyemangat baginya. Sama seperti Ivone. Meski Cassandra dan Ivone akrab dengan Kevin, mereka berdua tak pernah tahu persis mengenai latar belakang keluarga Kevin. Mereka tak peduli akan hal itu, yang mereka tahu.. mereka harus saling mengasihi satu sama lain. Terlebih lagi Kevin, ia sangat menyayangi Cassandra, kekasihnya.

Orang tua Cassandra menyetujui hubungannya dengan Kevin. Dan semua keadaan berjalan normal, seperti biasanya. Tapi, keadaan berubah saat orang tua Cassandra ingin mengenal keluarga Kevin lebih jauh.

“Sandra.. kapan Kevin datang ke rumah beserta keluarganya?”

“Entahlah, nanti akan aku tanyakan”

 

Cassandra bingung harus memberitahukan kemauan orang tuanya pada Kevin atau tidak, karena selama ini ia tahu Kevin tak pernah mau membahas mengenai hal itu, entah mengapa.

Dengan tumpukan buku yang dibawa oleh Kevin, semakin membuatnya terlihat seperti orang yang jenius. Yah.. meski lebih pantas disebut cowok kutu buku. Tapi, kehadiran Cassandra didekatnya melunturkan ocehan seperti itu. Kini,ia terlihat lebih menawan. Yah.. kecantikan Cassandra memberikan rona tersendiri diraut wajahnya.

“Mm.. biarkan aku membantumu”

“Tak usah, ini tak berat”

“Ayolah, jangan menolak permintaanku”

Demi melihat senyum diwajah cantiknya, Kevin menerima tawaran Cassandra. Mereka duduk dihalaman belakang sekolah. Membaca buku-buku referensi. Saat keadaan hening, Cassandra mulai berbicara.

“Vin.. keluargaku ingin mengenal keluargamu, kau datang yah.. bersama mereka”

“Untuk apa aku mengajak keluargaku? Mereka sibuk, biarkan aku saja yang datang. Toh, yang  mencintaimu aku bukan mereka, ini hubungan kita”

“Mm... baiklah”

Cassandra memang tak tahu seperti apa gejolak dalam batin Kevin. Kevin ingin memperkenalkan orang tuanya tapi, tidak dengan keadaannya yang seperti ini. Ia takut Cassandra akan pergi jika mengetahui keluarganya yang sebenarnya. Andai Cassandra bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh Kevin, ia mungkin akan bisa menerima keputusan Kevin untuk tidak mengenalkannya pada orang tuanya, tapi.. Cassandra tak tahu hal ini.

***

John Maddyor adalah Ayah Kevin. Ia adalah seorang pelaku kriminal yang handal mengenai pembunuhan berantai. Baginya dengan membunuh, semua masalah bisa terselesaikan dengan mudah. Hanya perlu taktik licik, sedikit keahlian, dan.. musuh pun tewas. Itu adalah hal yang sangat membanggakan baginya.

“Ashlan kau siapkan taktik untuk membunuh pengusaha baru itu”

“Sebaiknya untuk pembunuhan kali ini kita akan berpura-pura menjadi relasi kerjanya dan saat ia mulai menerima tawaran, aku akan memberikan pulpen pengisap darah itu”

“Yah..terserah kau saja yang jelas kau harus bisa membunuhnya”

Kevin yang mendengar percakapan ayah dan pamannya langsung berusaha mencari cara agar tindakan licik keluarganya itu tak terjadi. Ia pun mengikuti kemana mobil pamannya pergi.

***

“Maaf.. Kevin tidak bisa datang bersama keluarganya, orang tuanya sibuk”

“Kalau begitu, kau atur waktu saja, kapan ia bisa datang ke rumah”

Sementara Cassandra masih sibuk menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya disembunyikan oleh kekasihnya itu. Cassandra mulai mencoba untuk mencari tahu tentang keluarga Kevin yang sebenarnya.

“Ivone.. aku tak tahu, kenapa Kevin sampai saat ini tak mau mengenalkan orang tuanya pada keluargaku”

“Mungkin, keluarganya benar-benar sibuk, kau sabar saja..”

“Tapi, apa kau pernah tahu siapa nama orang tua Kevin?”

“Yah, sebenarnya tidak juga, tapi kenapa kita tidak mencarinya di data sekolah saja?”

“Ia.. ide yang bagus”

Cassandra dan Ivone sudah siap mengenakan seat-belt. Ivone yang mengendarai mobil sudah menancapkan gas dan ia pun pergi.

Mereka mulai menyusuri anak tangga, mengambil kunci perpustakaan yang selalu dititipkan di petugas keamanan. Saat mereka mencari data-data seluruh siswa, mereka agak kebingungan. Mereka baru sadar bahwa nama Kevin di sekolah tak hanya satu. Setelah, berulang kali membolak-balik lembaran-lembaran kertas akhirnya mereka menemukan biodata Kevin.

Kevin Ivankov Maddyor

Dari biodata itu Cassandra tahu bahwa Kevin adalah anak dari seorang pengusaha ternama. Ia juga menemukan alamat rumah Kevin.

***

Kevin terus mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia tak ingin tindakan pamannya sampai harus merenggut nyawa orang lain lagi. Hingga ia berhasil menemukan alamat yang menjadi incaran keluarganya untuk dibunuh. Tanpa harus menunggu waktu lebih lama lagi, Kevin langsung membicarakan rencana keluarganya pada pengusaha muda itu.

Ia memang tak peduli tindakannya akan membatasi tindakan licik keluarganya, ia tak peduli. Selama ini ia memang hanya diam saja, tapi di umurnya yang kini jauh lebih mengerti tentang hidup. Ia tak akan membiarkan keegoisan keluarganya harus dibayar dengan tangisan kehilangan oleh mereka semua. Kevin tak tahan melihat semua berita kejahatan keluarganya dibahas habis-habisan disemua media, sedangkan keluarganya tak pernah tertangkap oleh aparat kepolisian. Bagaimana mungkin, keluarganya bisa tertangkap semudah itu, sedangkan uang sudah mengunci rapat mulut-mulut haus kenistaan itu.

Kevin beruntung bisa terbebas dari kelainan seperti yang dialami oleh keluarganya. Penguasa takdir mungkin telah memilihkan jalan hidup yang jauh lebih baik untuknya. Ia pasti bisa memberikan akhir yang baik dalam hidupnya.

***

Rasa penasaran Cassandra membuatnya memutuskan untuk datang ke rumah Kevin. Awalnya ia ragu untuk melakukannya, tapi ia tak kuasa untuk ingin mengetahui keluarga Kevin. Siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu.

Di tengah perjalanan Ivone menghubungi Cassandra untuk segera kembali ke sekolah. Cassandra yang ingin menuju ke rumah Kevin, kembali memutar arah menuju sekolah. Disana, ia sudah melihat Ivone.

“Ada apa?”

“Ini.. aku menemukan note-pad Kevin di kelas, ia mungkin lupa”

“Mm.. ia,biar aku saja yang menyimpannya”

Awalnya Cassandra tidak ingin membuka note-pad  Kevin, tapi dia pikir.. ia harus membukanya. Siapa tahu ia bisa menemukan hal lain, bukan sekedar alamat rumah.

Benar saja, apa yang ada dalam pikiran Cassandra ternyata benar. Ia menemukan sebuah catatan mengenai keluarga Kevin.

“ Keluarga Maddyor adalah keluarga besar pengidap psikopat. Dan aku termasuk dalam bagian keluarga ini. Ayahku seorang pengusaha ternama, ia selalu menjalankan tindakan liciknya bersama pamanku, Ashlan Presscott Maddyor. Mereka berdua memang keluargaku, tapi jika sifat mereka seperti itu, aku kecewa bisa jadi bagian dari mereka. Orang tuaku dan adik-adikku juga mengidap penyakit yang sama, entah mengapa Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup dengan cara yang lebih baik. Satu kelebihan dari kelainan itu yang sangat ku hargai yakni, akan membuat seseorang memiliki IQ yang tinggi. Tapi, untuk apa itu semua jika harus bahagia ditengah derasnya air mata kehilangan jiwa-jiwa yang tak bersalah. Keluargaku jahat.”

***

Kevin kembali ke rumah tanpa perasaan bersalah pada keluarganya karena telah menghancurkan rencana mereka. Kevin tak peduli, seberapa marahnya ayah dan pamannya jika tahu yang menggagalkan rencana mereka adalah anaknya. Rasa belas kasih pada nyawa-nyawa tak bersalah itu lebih tertanam kuat dalam jiwa Kevin.

Ia masih ingat betul bagaimana ayahnya dulu membunuh seorang gadis kecil yang bermain dihalaman rumahnya. Wajah periang dari gadis berambut panjang itu luntur ketika ayah Kevin datang dengan beringasnya menampar wajah imut itu. Ayah Kevin tak peduli air mata penuh rasa iba merintih kesakitan, ayahnya tak peduli. Ayahnya justru semakin tertawa getir melihat gadis itu kesakitan. Paman Ashlan juga sama kejamnya, ia juga turut menyiksa gadis itu. Ia tega menghabiskan nyawa tak bersalah itu. Sungguh, mereka sangat kejam.

***

Hari ini, keputusan Cassandra sudah bulat. Ia akan datang ke rumah Kevin. Ia ingin memastikan apakah yang ia baca itu benar-benar nyata atau hanya karangan Kevin saja. Yah.. sekaligus mengembalikan note-pad Kevin yang tertinggal.

Halaman rumah yang luas. Rumah mewah bergaya klasik, disertai dengan semi furnishednya yang menawan dan ditata dengan gaya yang elegan. Sebuah hunian yang tentunya akan sangat nyaman bagi semua penghuni rumah. Tapi, siapa yang menyangka rumah seindah ini ternyata menyimpan banyak rahasia yang tak pernah terliput oleh media manapun. Di sinilah rumah yang selalu di incar oleh pencari pelaku pembunuhan yang pernah terjadi. Di sinilah semua kejahatan itu berawal.

Cassandra masuk melewati gerbang berpelitur emas. Awalnya ia ragu, apakah ini benar rumah kekasihnya atau tidak. Tapi, ketika ia melihat mobil Kevin terparkir, ia yakin ini adalah rumahnya. Dengan memberanikan diri, ia memencet bel.

Beberapa menit setelahnya, Kevin membuka pintu. Ia tercengang melihat Cassandra berada di rumahnya. Cassandra memberikan note-pad, lalu Kevin mengajak Cassandra masuk ke dalam rumahnya.

“Vin.. apa benar yang kau tulis di note-pad itu nyata?”

“Ia.. semua yang ku tulis itu benar”

“Kenapa kau tak mengatakannya dari dulu saja?”

“Aku tak tahu, harus menjelaskannya dari mana. Yang jelas keluargaku memang pengidap psikopat”

Ayah Kevin yang kebetulan mendengar percakapan anaknya marah. Ia menganggap Kevin telah membuka aib keluarga mereka, padahal Kevin tak bermaksud untuk melakukannya. Ayah Kevin bahkan memanggil Ashlan Presscott Maddyor untuk membunuh Cassandra.

Ketika Cassandra masih bercerita. Paman Ashlan datang membawa alat senapan, berusaha membidik Cassandra. Tapi, Kevin yang melihatnya dengan segera menarik lengan Cassandra dan membawanya lari dari rumah. Ia berusaha lari secepat mungkin untuk bisa mengendarai mobil, sementara senapan Paman Ashlan terus diarahkan pada mobil Kevin. Paman Ashlan memang termasuk seorang psikopat berdarah dingin. Tidak memperhatikan rasa manusiawi di dalam bertindak kriminal namun kecerdikannya dalam mengelabui adalah sebuah pertimbangan keluarga Kevin mengutusnya untuk membunuh Kevin.

Kevin dan Cassandra terus mencari tempat yang aman agar tidak ditemukan oleh Paman Ashlan. Hingga akhirnya mereka berdua hidup secara nomaden di dalam hutan beberapa waktu, karena itu adalah satu-satunya cara teraman yang bisa mereka lakukan.

Setelah merasa aman tinggal dalam hutan selama sepekan. Mereka memutuskan untuk keluar dari hutan, tapi kecerdikan Paman Ashlan memang harus diakui oleh Kevin dan Cassandra. Jauh sebelum mereka melewati jalan keluar, Paman Ashlan sudah menyiapkan jebakan istimewa untuk mereka berdua. Tak ada pilihan lain, Kevin dan Cassandra harus turun dari mobil. Saat Kevin menginjakkan kakinya di tanah, Paman Ashlan sudah menyiapkan jebakan pengisap darahnya. Hingga Kevin jatuh tersungkur bersimbah darah. Cassandra panik, ia langsung mengambil pisau yang memang sudah disediakan oleh Kevin, dengan memberanikan diri Cassandra lantas menusuk Paman Ashlan hingga ia pun jatuh, seperti Kevin.

Cassandra lalu memapah tubuh Kevin yang sudah berlumuran darah untuk keluar dari hutan. Ia berusaha mencari pertolongan agar Kevin bisa terselamatkan dan dibawa langsung ke rumah sakit.

John Maddyor yang mengetahui bahwa Paman Ashlan tertikam oleh sebilah pisau, semakin marah. Terlebih lagi saat ia tahu bahwa yang melakukannya adalah Cassandra. Ia semakin gencar untuk ingin menghabiskan nyawa gadis cantik itu. Tapi, usahanya sia-sia Kevin selalu menjaga kekasihnya, meski keadaan Kevin sedang kritis di rumah sakit, ia masih tetap berjaga untuk Cassandra, orang yang amat ia cintai. Bagi Kevin, Cassandra adalah penerang hidupnya, laksana bintang yang bersinar di langit dengan terangnya. Yah.. seperti namanya Cassandra Procyon. Bintang ketujuh yang paling terang di bumi.

Setelah keadaan Kevin membaik, Cassandra mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Kevin menerima tawaran Cassandra. Saat memasuki rumah, Cassandra merasakan ada hal yang berbeda. Rumahnya tidak sedamai yang dulu. Rumahnya hening. Ia membuka pintu rumahnya, berusaha mencari keluarganya.

“Ayah.. ibu… Cassandra datang bersama Kevin”

“. . . . “

Ruangan senyap. Tak ada suara.

Cassandra heran, mengapa tak ada satu pun keluarganya yang terlihat datang menyambutnya. Padahal Cassandra hidup ditengah keluarga yang penuh kasih sayang, ia terbiasa dididik dengan ketulusan.

Ia mulai membuka kamar orang tuanya dan… ia menemukan mayat kedua orang tuanya yang telah membusuk, penuh nanah. Cassandra histeris melihatnya. Kevin buru-buru menghampiri kekasihnya yang ketakutan. Air mata berlinangan diwajah cantik gadis itu. Ia menangis dalam dekapan hangat Kevin.

***

“Hahaha… aku memang tak bisa membunuh gadis bernama Cassandra itu tapi, aku bisa membunuh orang tuanya”

Keangkuhan John Maddyor memang tak pernah hilang, terlebih lagi jika hanya akan dihalangi oleh gadis itu. Ah.. pengalamannya memang sudah membuatnya menjadi seorang psikopat handal. Tak mengenal apa arti perasaan itu. Baginya semua masalah mudah, hanya dengan membunuh semuanya beres.

“Ayolah Sandra.. ku mohon, aku yakin kau bisa kembali menjadi gadis periang”

“PERGI…..!!”

“Cassandra, kau tak dilahirkan untuk mengidap penyakit itu, ayolah sayang..”

“LIHAT SAJA NANTI, AKU AKAN MEMBUNUHMU..!!”

“Ingat kembali namamu sayang, kau adalah Cassandra Procyon..”

“ I WANNA KILL YOU..!!”

 

***

 

Kevin memang berhasil melepaskan dirinya dari statusnya sebagai keluarga psikopat,karena ia sudah tak bersama ayah dan pamannya lagi. Tapi, kini.. kekasihnya, orang yang ia cintai justru berubah menjadi gadis pengidap penyakit yang ia benci.