Halaman

Selasa, 20 Januari 2015

selembar surat kekasih



Bagaimana mungkin urusan cinta ini menjadi rumit. Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kalau kau bertanya-tanya kenapa aku bisa begitu saja meminta password akunmu itu, aku akan menjelaskannya.
Bukankah kita menjalani hubungan ini sudah sangat lama? Tidakkah kau pikir aku selalu ingin mengetahui apa yang kau lakukan? Saat bersamaku dan saat tidak bersamaku. Kau tidak akan pernah mampu menebak bagaimana pikiran dalam otakku ini memikirkanmu tanpa henti. Bahkan kalau kau lihat aku terlalu sibuk mengerjakan tugasku, bermain game yang baru beberapa minggu ini kugemari. Dalam benakku pun jauh lebih sibuk memikirkan bagaimana agar kau tetap melihatku sebagai wanita terindah yang pernah kau temui. Aku jauh lebih sibuk memikirkan bagaimana agar aku selalu terlalu terlihat indah.

Pernah suatu hari kau katakan tentang pakaianku, atau tas yang kukenakan tak sepadan. Kau tahu apa yang ada dalam benakku? Saat itu aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tampil seceroboh ini? Aku selalu berharap agar kau melihatku cantik setiap hari. Aku bingung harus melakukan hal apa agar kau tak kehilangan selera untuk menatapku lebih indah dari biasanya.

Kau tahu bukan? Aku ingin menjadi istri sholehah? Meski yah aku mungkin tak akan bisa seperti istri-istri nabi yang lainnya. Tapi aku selalu berusaha melakukannya. Aku selalu berusaha bagaimana caranya menjadi penyejuk matamu. Menjadi qurrata’ a’yun untuk penglihatanmu, agar semua rasa penat yang kau rasakan sirna ketika melihatku. Aku selalu ingin menjadi cantik dihadapanmu agar tak kau palingkan kedua bola matamu itu pada wanita lain. Karena tak dapat ku pungkiri pria memang punya indra visual yang jauh lebih baik dari seorang wanita.

Saat kau mendengarku mengeluh terkena paparan sinar matahari, mendumel tiada habisnya. Sadarilah semua itu sebenarnya untukmu, aku tak ingin aku berubah menjadi gadis yang kulitnya hitam legam terpanggang teriknya mentari. Aku takut kau akan berpaling pada gadis yang putih karena melihatku hitam legam.

Kau masih ingat bagaimana aku marah padamu saat mengetahuimu menggombali gadis lain waktu itu? Ah.. demi Tuhan rasa sakit itu tak pernah terperi. Aku tak tahu mengapa kau lebih bahagia menghapus air mata gadis lain dengan menghiburnya sedangkan aku yang kekasihmu sendiri pun tak kau tahu menangiskah ia ketika tak diberi kabar olehmu. Menangiskah ia melihat kau pergi bersama temanmu yang lain dan disana ada banyak gadis, sedangkan aku pun tak kau ajak untuk ikut. Menangiskah ia ketika kau berbicara dengan gadis lain.

Tidakkah kau sadar bagaimana perasaan ini untukmu? Pernahkah kau temukan gadis sepertiku? Seorang kekasih yang tidak pernah bisa berhenti untuk cemburu pada semua kegiatanmu yang tidak kau tujukan untukku. Jangankan gadis, ibumu yang telah berjasa melahirkanmu pun aku cemburu padanya. Pada semua barang-barang yang kau habiskan beberapa detik dengannya pun aku cemburu.

Terkadang aku heran, bagaimana mungkin aku terlahir dengan perasaan seperti ini. Namun aku selalu mengalaminya, dan aku memang tidak bisa terlepas dari perasaan seperti ini. Itulah sebabnya aku sering menangis seorang diri. Sakit rasanya melihat orang disekitarku sibuk dengan dunianya sendiri.

Begitu pula setiap amarahku untukmu. Kau benar semua itu karena aku teramat rindu padamu. Tapi yang membuatku heran kenapa kau justru sering membuatku marah? Mm.. tidakkah kau pikir bagaimana sakitnya menahan rindu? Rindu itu amat sakral. Obatnya tentu saja temui aku. Yakinkan bahwa kau pun menyimpan rindu yang sama untukku. Namun yang harus kau tahu, rindu yang kumiliki jauh lebih dahsyat dari rindu yang pernah kau rasakan untukku.

Kalau kau berpikir bagaimana mungkin kau yang begitu ingin bersamaku sementara aku dapat dengan mudahnya selalu menyuruhmu meninggalkanku. Tidaklah, aku tidak mungkin semudah itu melupakanmu bahkan jika kau ingin membuktikannya bawalah aku pada ahli psikolog.. tanyakan bagaimana perasaan ini untukmu. Tanyakan bagaimana rasa rindu yang kerap kali ingin membunuhku dalam pekatnya malam. Aku jauh lebih susah untuk melakukannya, bahkan aku tak yakin jika aku bisa melakukannya.

Dan yang selalu membuatku bertanya-tanya adalah sikapmu. Kau teramat mencintaiku bukan? Tapi kenapa kau tega memberikan perhatianmu walaupun itu hanya berupa chat singkat yang bagiku seperti pisau tajam yang mengoyak perasaanku lumat-lumat, tak tersisa. Terlebih lagi saat aku tahu kau pernah berbicara dengannya melalui handphonemu itu. Ah… mungkin ini yang membuat Layla menjadi majnun. Karena cinta amat indah namun jika ternodai ia akan jauh menikam lebih lihai dari seorang pembunuh bayaran sekalipun, ia akan amat lihai memainkan dan mengoyak perasaan tanpa ampun. Entah kata apa yang dapat mewakilinya.

Menyamakannya seperti luka yang penuh darah lalu ditaburi garam dan jeruk nipis pun rasanya jauh lebih menyakitkan. Ketahuilah, luka perasaan itu sangat kuat. Ia menusuk sampai membuat pikiranmu buyar, kacau, dan tentu saja tanpa arah. Tidakkah pernah kau dengar bagaimana seseorang yang pernah patah hati berakhir tragis dengan bunuh diri? Ini tentu saja bukan hal yang main-main. Karena seperti itulah realitanya. Luka perasaan jauh lebih menyakitkan dan aku selalu berharap terhindar dari penyakit mematikan itu, namun sayang lagi-lagi aku jatuh di lubang yang sama.

Entah aku harus mengutuk diri ini seperti apa lagi agar tidak jatuh di lubang yang sama ini. Akankah Tuhan masih ingin mengujiku lagi? Ah.. rasa-rasanya setiap cobaanku selalu mengaitkan perasaanku sendiri. Lelah rasanya menangis semalaman. Namun bagaimana lagi? Ingin ku rapatkan kedua bola mata ini tetap saja susah, ada bulir air hangat yang masih saja mengalir dari kedua sudut mataku yang membuat bantal ini basah.

Aku tak tahu bagaimana lagi caranya memulihkan luka ini? Kau ingat peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air? Yah peristiwa yang cukup menggemparkan jagat ini, namun dibalik jatuhnya pesawat itu ada-ada saja seseorang yang berhasil menemukan kotak hitam yang setidaknya bisa mencerahkan kenyataan yang terjadi. Jika diibaratkan seperti pesawat yang jatuh itu, kotak hitam itu adalah hatiku. Lalu siapa yang akan menemukannya dan setidaknya yah mau berbaik hati mengobati luka ini.

Bagaimana denganmu? Masihkah kau ingin mengobati luka yang kau torehkan ini kasih? Jujur aku sendiri tak mampu mengobatinya. Bibirku kelu jika ingin memarahimu, lagi pula kau tak salah.

Sebenarnya akulah yang salah, aku yang kurang pandai menjagamu. Aku yang kurang cantik sehingga kau bisa memberikan perhatian sekecil itu pada gadis lain. Menanyakan bagaimana kabarnya, dimana keberadaannya. Ah Tuhan… bisakah aku melupakan ini semua? Aku teramat mencintai kekasihku. Selalu ku berikan yang terbaik untuknya, selalu.

Tapi, bukankah selalu aku katakan agar selalu jujur padaku? Karena aku terlahir dengan kebaikan Tuhan seberapa keras orang disekitarku ingin menyembunyikan sesuatu dariku aku akan selalu diberi ilham oleh Tuhan untuk mengetahuinya. Akan selalu ada cara yang dilakukan Tuhan untukku agar aku sadar hingga aku tahu yang sebenarnya. Layaknya Percy Jackson yang selalu diberikan petunjuk oleh ayahnya, Dewa Poseidon.

Sepertinya aku punya Poseidon tersendiri sama seperti yang ada dalam mitologi yunani itu, tapi aku mendapatkannya dari Tuhanku, yah karena Dia yang tahu seperti apa hati yang telah ia berikan untukku. Tuhan tahu bagaimana pekanya perasaan ini.

Kau lupa yah tentang ceritaku bagaimana kekasihku yang dahulu juga menyakitiku namun Tuhan selalu punya caranya sendiri sehingga aku tahu semua penghianatan itu, padahal aku tak mengenal seorang pun teman barunya. Sejak kita jadian, ku ceritakan semua pengalaman berharga itu sebagai petunjuk untukmu agar kau tak pernah meremehkan gadis kecil ini. Agar kau sadar bahwa gadis ini pun ingin diberi kejujuran yang sama.
Apa pernah aku berbohong padamu? Lalu dosa apa yang kulakukan untukmu sehingga kau membohongiku seperti ini? Kau tahu bukan pepatah tentang tupai itu? Tapi kenapa kau tidak mengindahkannya untukku? Kau takut aku marah? Seharusnya kau harus jauh lebih takut jika aku tahu kau menutupinya dariku, aku tentu saja akan jauh lebih marah bukan?

Untungnya aku mencintaimu, aku tidak memarahimu bukan? Aku bahkan tetap melanjutkan kisah ini. Aku tak tahu ada berapa pemuda di luar sana yang akan marah jika tahu kau melakukan hal ini padaku. Tidakkah kau bersyukur bersamaku? Atau mungkin kau memang tampan, sehingga menganggap semua ini biasa-biasa saja. Dan menganggap aku tak secantik teman wanitamu sehingga kau tak pernah risau jika kehilanganku. Entahlah, aku tetap tidak peduli dengan semua itu. Aku akan tetap menjalani semua ini.

Mungkin ini pertanda mimpi-mimpi yang akhir-akhir ini selalu mengusik tidur nyenyakku. Kau tahu bukan? Tiga hari berturut-turut aku memimpikanmu bersama gadis lain. Ah, ini benar-benar mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

Aku tak tahu ada berapa banyak gadis yang telah kau ajak chat semenarik dan seperhatian seperti itu, aku juga tak tahu kemarin-kemarin ada berapa banyak gadis yang telah kau telpon tanpa memikirkan perasaanku yang selalu kujaga untukmu.

Jika kau cemburu melihat bagaimana pemuda yang lainnya menunjukkan perasaannya  padaku, kau seharusnya tak usah merasakan hal itu. Toh, seberapa tampan dan baiknya mereka aku tak pernah mau memulainya. Aku pun hanya membalas seperlunya dan tentu tanpa rasa bahagia sekalipun. Aku tak pernah mau meminta nomor handphone mereka bukan?

Tapi, kenapa kau justru seperti pemuda itu?

Aku cemburu, dan kau harus tahu hal ini. Ah.. aku kurang cantik yah dibandingkan dia? Mm.. aku sadar dia memang gadis yang cantik dan tentu saja manis, senyumannya mungkin membuatmu jatuh hati. Belum lagi ia tinggi sepertimu, sedangkan aku? Ah.. aku tidak cantik dan semanis dirinya. Aku gadis kecil yang pendek, sangat kurus malah. Benar-benar berbeda dengannya.

Namun aku harus bagaimana? Apa aku harus minum obat peninggi agar bisa setinggi dirinya dan dirimu? Aku harus makan sebanyak mungkin agar tidak kurus kering kerontang seperti ini, layaknya sawah yang gagal panen dan tidak teraliri pengairan.

Maaf sayang, jika aku belum bisa tampil cantik dan menjadi qurrata’ a’yun untukmu. Itu memang cita-citaku sejak dulu menjadi qurrata’ a’yun bagi kekasihku agar ia betah bersamaku, agar ia rela menghabiskan waktunya untukku.

Semoga Tuhan memberiku rezeki yang berlebih hingga aku bisa merawat tubuh ini sesuai keinginanmu, agar matamu tidak silau oleh gadis lain. Karena akan sangat sakit jika kau bisa merasakan semua ini.
Maafkan aku yang gagal untuk menjagamu, namun aku selalu berusaha melakukannya.

2 komentar:

  1. Subhanallah..
    Berarti sekarang udah punya kekasih yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😂😂 ini sekadar tulisan :)

      Hapus